AdalahPay
SatuNusaNews – Ormas Islam terbesar di Indonesia Nahdlatul Ulama (NU) disebut pengamat politik Adi Prayitno akan berpaling dari Jokowi. Hal ini tidak terlepas dari sosok KH Ma’ruf Amin yang dianggap terlalu berambisi mendapatkan tiket cawapres pada pilpres mendatang.
Dalam acara Indonesia Lawyer Club beberapa waktu lalu, Mahfud MD blak-blakan menceritakan terkait kegagalan menjadi cawapres memberikan dampak negatif kepada Joko Widodo (Jokowi).
Pengungkapan cara-cara politis yang dianggap tak lazim itu juga menyeret salah satu ormas Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama yang ikut ‘beperan’ dalam penentuan pendamping capres petahan tersebut.
Adi Prayitno memprediksi, sebagian warga NU sangat mungkin terpengaruh atas pernyataan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi itu.Setidaknya, pengaruh itu ada pada warga NU kultural akibat penilaian kurang baik terhadap KH Ma’ruf Amin.
Menurutnya, warga NU sendiri terbagi menjadi dua macam. Yakni warga NU kultural dan warga NU struktural.
“Mungkin di struktural tetap akan loyal dan membela Kiai Ma’ruf Amin. Tapi di level NU kultural mungkin agak kurang bagus imejnya,” terang Adi sebagaimana dikutip JPNN.
Salah satu alasan yang melahirkan imej buruk terhadap Kiai Ma’ruf itu lantaran kalangan NU kultural sampai saat ini masih memegang filosofi lama.
Yakni jangan pernah memberikan jabatan politik pada orang yang terlampau menginginkannya.
Sebab, mereka menilai, kondisi tersebut dikhawatirkan akan berakibat kurang baik di kemudian hari.
“NU itu kan sejak awal tidak terlalu bernafsu dengan kekuasaan politik. Jadi, pernyataan Pak Mahfud saya kira akan cukup berpengaruh di kalangan kultural,” ucapnya.
Pengajar di Universitas Islam Negeri Syarief Hidayatullah Jakarta ini menambahkan, Ma’ruf selama ini dinilai sebagai kiai sepuh yang tak punya ambisi politik tertentu.
Namun, di balik terpilihnya Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) itu sebagai pendamping Jokowi, ternyata ada intrik yang mengemuka dan itu disebut-sebut antara lain melibatkan Kiai Ma’ruf.
Di satu sisi, dipilihan Ma’ruf itu juga membuat Jokowi tambah babak belur. Pasalnya, Ma’ruf dinilai sebagai dalang pemenjaraan mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.
“Kasihan Pak Jokowi ini, babak belur dia,” ujarnya.
Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia ini menjelaskan, para pendukung dan pemilih Ahok rata-rata adalah pemilih yang rasional.
Mereka memilik Ahok karena dianggap mampu dan bisa bekerja serta memimpin DKI Jakarta.
“Mereka ini aktivis yang inklusif dan punya satu nilai yang diperjuangkan,” jelasnya.Adi meyakini, ketika ahokers menyatakan Ma’ruf intoleran, maka mereka tetap konsisten menilai langkah Jokowi memilih Ma’ruf sebagai cawapres sebagai sebuah blunder.
“Jadi tak heran teman-teman ahokers mengancam mereka akan golput. Makanya di awal saya bilang kasihan saya sama Pak Jokowi,” lanjutnya.
Dalam proses pemilihan Ma’ruf itu, Adi pun menyinggung ‘kesalahan’ capres petahana tersebut.
“Terlampau mendengarkan bisikan PKB dan PPP. Seakan-akan politik itu hanya soal Nahdlatul Ulama dan non-NU. Padahal tidak sesederhana itu,” papar dia. #
Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.