SatuNusaNews – Ketua Umum Ikatan Advokat Muslim Indonesia (IKAMI), Abdullah Al Katiri heran dengan inisiatif pihak kepolisian yang akan menyarankan pendekatan restorative justice pada kasus penistaan agama dengan terlapor Sukmawati Soekarnoputri.

Al Katiri meyakini pendekatan restorative justice tidak bisa diterapkan pada kasus Sukmawati.

Pendekatan restorative justice adalah pendekatan yang menitikberatkan pada rekonsiliasi antara pelaku tindak pidana dan korban di luar penyelesaian secara hukum.

Menurut Al Katiri, hal itu bisa saja diterapkan jika objeknya adalah manusia atau masyarakat tertentu dan perbuatannya juga merupakan delik aduan. Sementara itu, perkara yang dihadapi Sukmawati selain delik umum, juga bukan delik aduan.

Kemudian, objek perkaranya bukan manusia, melainkan suatu keyakinan atau agama.

“Perbuatan tersebut adalah penodaan agama yang dianut oleh umat Islam di seluruh dunia, bukan hanya masyarakat Muslim di Indonesia,” ungkap Al Katiri dalam rilisnya.

Al Katiri menambahkan, bagaimana bisa cara mendamaikan suatu kaidah yang merupakan keimanan seluruh penganut Islam. Sebab, yang sudah ternodai adalah agamanya. Jadi, penyelesaian secara restorative justice dalam perkara tersebut adalah suatu yang tidak mungkin atau mustahil dilakukan.

“Seperti apa yang akan dilakukan oleh pihak kepolisian ataupun dianjur-anjurkan oleh pihak lainnya,” kata Al Katiri. #

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.