prabowo pks pidato
AdalahPay

Semalam saya menyaksikan langsung tayangan talk show ILC di studio dengan tema “Prabowo Mulai Menyerang“. Saya menduga malam itu ia akan dikuliti dan didegradasi oleh para lawan politik.

Benar saja, Prabowo diserang oleh para die hard penguasa. Sayang, para penyerang tampil tidak dilengkapi kadar intelektual yang mumpuni. Mereka hanya lebih menyerang kepada hal-hal yang sifatnya pribadi dan tidak esensi.

Adian Napitupulu misalnya. Dia terjebak dengan masa lalu dan belum move on dengan Orde Baru. Padahal, sudah 20 tahun kita merasakan benih reformasi. Dan reformasi telah mengantarkan Adian dari jalanan ke Senayan.

Bagi senior saya di Forum Kota ini, semua persoalan negara karena ulah Orde Baru. Dia tidak mau sedikitpun mengevaluasi kinerja kepemimpinan Jokowi agar menjadi lebih baik. Dia selalu kaitkan Prabowo dengan kasus HAM. Padahal negara tidak berpendapat demikian. Sungguh isu usang yang diulang-ulang dan amat membosankan.

Begitu juga dengan kader Golkar, Maman Abdurahman. Pembela Setya Novanto ini memulai pembicaraan dengan menyinggung tragedi 12 Mei. Dengan backgroud sebagai Alumni Trisakti, dia coba mengaitkan peristiwa itu dengan Prabowo. Padahal, saat tragedi Trisakti terjadi, dia belum kuliah dan masih jadi ABG di Kalimantan sana. Dia politikus muda yang sotoy.

Lain lagi dengan Ruhut. Pria yang pernah berjanji potong kuping bila Ahok kalah ini malah berusaha menyerang pribadi. Dia memfitnah Prabowo terkena stroke. Dia mengaku fans Dokter Terawan, tapi tidak bisa membedakan antara stroke dengan bell’s palsy.

Setelah ocehannya dikritik Edhy Prabowo dan Fadli Zon, Ruhut langsung ciut dan berbalik memuji dengan menyebut hatinya selembut salju. Penonton di studio tak tahan menahan tawa dengan ulahnya. Dia memang sangat berbakat dalam melawak. Kalah Mi’ing.

Prabowo memang kerap menggebu-gebu setiap berpidato menyinggung kondisi bangsa dan rakyat. Sama seperti yang dilakukan Soekarno. Bila lawan politik menilainya terlalu emosi wajar saja, karena mereka membandingkannya dengan Jokowi yang memiliki keterbatasan kosakata dalam setiap pidato.

Kalau lawan politik menilai dia sedang marah, saya sepakat. Dia memang marah melihat kondisi bangsa seperti ini. Saya juga sepakat bila saat ini Prabowo dinilai sedang risau dan galau. Bukan risau karena tahun politik, tetapi karena tak kuasa melihat ada negara kaya, namun rakyatnya menderita.

Menakar isi kepala Prabowo tidak bisa hanya mendengar potongan pidato atau berita online yang dipecah-pecah. Setidaknya, kita perlu membaca buku “Paradoks Indonesia” hingga tuntas. Itulah gagasan dan pemikirannya yang dikemas secara utuh. Buku itu mencerminkan bagaimana kualitas pemikiran seorang Prabowo.

Sebagai mantan wartawan saya merasa heran, kenapa berita soal “Ghost Fleet” terus digoreng saat yang bersamaan harga Pertalite naik, saat INDEF merilis hutang negara sebesar 7.000 triliun dan saat Setnov menyebut dua nama besar dalam sidang e-KTP.

Saat ini saya kembali heran. Kenapa media massa lebih sibuk menyoroti pidatonya, ketimbang mempersoalan kasus sarden cacing dan puisi kontroversi dari Sukmawati. Bisa jadi, ini hanyalah spin issue. Menciptakan kegaduhan baru untuk menutupi kegaduhan lain. Wallahu’alam.

Tayangan ILC semalam bagi saya menjadi iklan kampanye gratis untuk Prabowo. Jutaan pemirsa tersadarkan bahwa ia memiliki kecintaan yang amat besar kepada Bangsa ini.

Gaduh tentang pidato Prabowo dan puisi Sukmawati muncul secara bersamaan. Publik bisa membedakan, mana anak biologis dan mana anak ideologis dari Bung Karno. Sekian…

Tb Ardi Januar

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.