Gambar Ka'bah di Lapo Tuak, Bisakah PPP Dipidana? - SatuNusaNews

Gambar Ka’bah di Lapo Tuak, Bisakah PPP Dipidana?

Ka'bah PPP Lapo tuak

SatuNusaNews – Jagat dunia maya digegerkan dengan pemasangan spanduk dukungan ke calon gubernur-wakil gubernur di Sumatera Utara. Seperti diketahui Partai Persatuan Pembangunan mendukung pasangan Jarot-Sihar. Tak pelak lagi, spanduk dan baliho yang di dalamnya terpampang gambar Ka’bah bertebaran di sudut-sudut kota Medan. Ironisnya, spanduk bergambar Ka’bah kiblat umat Islam tersebut juga terpajang di depan Lapo Tuak.

Lapo tuak adalah tempat orang meminum tuak, jenis minuman keras tradisional Batak hasil air nira yang dipermentasi. Minuman memabukkan ini jelas dihukumi haram dalam ajaran Islam.

Menanggapi keresahan umat Islam khususnya di Sumatera Utara, mantan Sekretaris Umum Ikatan Alumni Fakultas Hukum USU Ahsanul Fuad Saragih, S.H, M.A angkat bicara. Menurutnya, PPP bisa dibawa ke ranah hukum karena dianggap bentuk penistaan simbol agama Islam.

Ahsanul dengan lugas menjelaskan bahwa setiap delik umumnya terdiri dari unsur pokok subyektif yaitu dipenuhi unsur kesalahan yang dapat berupa kesengajaan (dolus).

Kesalahan itu bentuknya 3 yaitu pertama, kesengajaan sebagai maksud (opzet als oogmerk) untuk mencapai suatu tujuan (yang dekat); dolus directus. Kesalahan kedua, yaitu kesengajaan dengan sadar kepastian (opzet met zekerheidsbewustzijn atau noodzakkelijkheidbewustzijn. Sedangkan kesalahan yang ketiga, ialah kesengajaan dengan sadar kemungkinan (dolus eventualis atau voorwaardelijk-opzet).

Saat menjabarkan apakah memasang gambar yang merupakan simbol suci orang Islam dapat dikualifikasikan sebagai penodaan agama, Ahsanul berkata, “Agar tidak “loncat pagar”, saya hanya mengeluarkan pendapat dari segi hukum ke parpol PPP karena memang senyatanya mereka selaku orang Islam yang bertanggung jawab atas insiden memalukan ini.”

“Sengaja berarti membayangkan akan akibat timbulnya akibat perbuatannya. Orang tak bisa menghendaki akibat, melainkan hanya dapat membayangkannya. Teori ini menitikberatkan pada apa yang diketahui atau dibayangkan oleh sipelaku ialah apa yang akan terjadi pada waktu ia akan berbuat,” lanjut Ahsanul.

Menurut Ahsanul, agaknya kesengajaan bentuk pertama dan kedua mungkin tidak terpenuhi.

“Dalam senyatanya PPP memang tidak mungkin bermaksud menodakan agama dengan membiarkan simbol agama dipasang di tempat yang tidak patut. Tapi kesengajaan bentuk ketiga yakni kesengajaan dengan sadar kemungkinan atau dolus eventualis atau voorwaardelijk-opzet tampak secara nyata dapat terpenuhi,” jelas Ahsanul.

Ahsanul mencontohkan tentang adanya kemungkinan pemasangan gambar Ka’bah yang merupakan simbol suci umat Islam di tempat-tempat maksiat.

Ahsanul Fuad menyimpulkan bahwa di depan hukum secara patut dapat membayangkan bahwa simbol Ka’bah itu akan bisa dipasang di tempat-tempat yang tidak patut bahkan tidak menutup mungkin di tempat lokalisasi pelacuran.

Saat didesak mungkinkah parpol PPP dapat diajukan ke ranah hukum? Ahsanul menjawab dengan santai, “Anda mungkin sudah punya jawabannya.”#

Facebook Comments
Authors

Related posts

Tinggalkan Balasan

Top