ahsanul fuad puisi sukmawati
AdalahPay

*| Mungkinkah Dipidana ?

Orang-orang semodel Sukmawati persis sama dengan tipologi orang munafik yang disitir Al-Qur’an.

“Dan apabila dikatakan kepada mereka, Janganlah berbuat kerusakan di bumi. Mereka menjawab, Sesungguhnya kami justru orang-orang yang melakukan perbaikan.” (Surat Al-Baqarah, Ayat 11)

Gambaran ayat ini persis sama dengan zaman now. Lihatlah ke sekeliling. Banyak sekali orang yang mengklaim paling NKRI tapi kelakuannya selalu menyakiti Islam dan ummat Islam. Bukankah kalau ummat Islam sering disakiti bisa membuat gaduh NKRI ? Bukankah kalau terjadi kegaduhan akan jadi ancaman bagi stabilitas, persatuan dan kesatuan NKRI ?

Pada kesempatan ini saya ingin mengulas “Puisi Sukmawati” dalam perspektif hukum pidana. Apakah mungkin puisi ini bisa dibawa ke ranah pidana ? Mari kita diskusikan !

Setiap delik umumnya terdiri dari dua unsur pokok yaitu :

Pertama, unsur pokok subyektif yaitu dipenuhi unsur kesalahan yang dapat berupa kesengajaan (dolus) yang bentuknya :

1. kesengajaan sebagai maksud (opzet als oogmerk) untuk mencapai suatu tujuan (yang dekat); dolus directus

2. kesengajaan dengan sadar kepastian (opzet met zekerheidsbewustzijn atau noodzakkelijkheidbewustzijn

3. kesengajaan dengan sadar kemungkinan (dolus eventualis atau voorwaardelijk-opzet)

Kedua, unsur pokok obyektif terdiri dari :

1. Perbuatan manusia (positif atau negatif)
2. Menimbulkan akibat membahayakan, merusak/menghilangkan kepentingan/ kepentingan yang dipertahankan oleh hukum.
3. Keadaan-keadaan, yang dibedakan :
a. Keadaan sebelum/saat perbuatan dilakukan.
b. Keadaan setelah perbuatan dilakukan.
4. Sifat dapat dihukum berkenaan dengan hukum. Sifat melawan hukum adalah bertentangan dengan hukum(larangan atau perintah).

Petunjuk untuk dapat mengetahui arti kesengajaan, dapat diambil dari M.v.T. (Memorie van Toelichting), yaitu :

“Pidana pada umumnya hendaknya dijatuhkan hanya pada barang siapa melakukan perbuatan yang dilarang, dengan dikehendaki dan diketahui”.

Dalam pengertian ini disebutkan bahwa kesengajaan diartikan sebagai : “menghendaki dan mengetahui” (willens en wetens). Artinya, seseorang yang melakukan suatu tindakan dengan sengaja, harus menghendaki serta menginsafi tindakan tersebut dan/ atau akibatnya. Jadi dapatlah dikatakan, bahwa sengaja berarti menghendaki dan mengetahui apa yang dilakukan.

Orang yang melakukan perbuatan dengan sengaja menghendaki perbuatan itu dan disamping itu mengetahui atau menyadari tentang apa yang dilakukan itu dan akibat yang akan timbul daripadanya.

Dalam ilmu pengetahuan hukum pidana dapat disebut 2 (dua) teori sebagai berikut:

1). Teori kehendak (wilstheorie)

Inti kesengajaan adalah kehendak untuk mewujudkan unsur-unsur delik dalam rumusan undang-undang (Simons dan Zevenbergen).

2). Teori pengetahuan / membayangkan (voorstellingtheorie)

Sengaja berarti membayangkan akan akibat timbulnya akibat perbuatannya. Orang tak bisa menghendaki akibat, melainkan hanya dapat membayangkannya. Teori ini menitikberatkan pada apa yang diketahui atau dibayangkan oleh sipelaku ialah apa yang akan terjadi pada waktu ia akan berbuat (Frank).

Menarik untuk menelisik, apakah puisi Sukmawati memenuhi unsur keduanya ? Hemat saya, ya. Sudah terpenuhi !

Pertama, unsur subyektif (kesengajaan dengan sadar kemungkinan).

Sukmawati -sebut saja misalnya- memang tidak bermaksud menyinggung ummat Islam dengan membandingkan “azan” dengan “kidung”, “cadar” dengan “konde”. Tapi fakta hukumnya banyak kalangan ummat Islam seperti saya yang merasa tersinggung. Meskipun dia tidak melakukan kesengajaan sebagai maksud (opzet als oogmerk) namun di hadapan hukum dia dituntut untuk dapat membayangkan akan kemungkinan terjadinya akibat yang tak dikehendaki (kesengajaan dengan sadar kemungkinan).

Contoh:
Seorang mengendarai mobil angkutan umum dengan kecepatan tinggi di jalan dalam kota. Di muka dia melihat sekelompok anak yang sedang bermain-main. Apabila dia tetap dalam kecepatan yang sama tanpa menghiraukan nasib anak-anak dan tanpa mengambil tindakan pencegahan, dan apabila akibat perbuatannya itu beberapa anak luka atau mati, maka disini ada kesengajaan untuk menganiaya atau membunuh, meskipun tidak dapat dikatakan bahwa ia menginginkan akibat tadi. Namun jelas ia menghendaki hal itu -dalam arti- meskipun dia sadar akan kemungkinan tentang luka dan matinya anak dia mendesak kesadaran itu kebelakang dan menerima apa boleh buat kemungkinan itu.

Di atas telah disebutkan 2 teori yang menerangkan bagaimana sikap batin seseorang yang melakukan perbuatan dengan sengaja.

Berdasarkan teori kehendak, jika Sukmawati menetapkan dalam batinnya, bahwa dia lebih menghendaki membuat dan menyiarkan puisi itu, meskipun nanti akan ada akibat yang dia tidak harapkan -dari pada tidak berbuat- maka kesengajaan yang dilakukannya tersebut juga ditujukan kepada akibat yang tidak diharapkan itu.

Berdasarkan teori pengetahuan, Sukmawati mengetahui/membayangkan akan kemungkinan terjadinya akibat yang tak dikehendaki, tetapi bayangan itu tidak mencegah dia untuk tidak berbuat. Maka dapat dikatakan, bahwa kesengajaan diarahkan kepada akibat yang mungkin terjadi itu.

Disamping kedua teori itu ada teori yang disebut teori apa boleh buat (“in kauf nehmen theorie”atau” op de koop toe nemen theorie”).

Menurut teori apa boleh buat (“in kauf nehmen theorie “atau”op de koop toe nemen theorie”) keadaan batin si pelaku terhadap perbuatannya adalah sebagai berikut:

a. akibat itu sebenarnya tidak dikehendaki, bahkan ia benci atau takut akan kemungkinan timbulnya akibat itu.

b. akan tetapi meskipun ia tidak menghendakinya, namun apabila toh keadaan/akibat itu timbul, apa boleh buat hal itu diterima juga, ini berarti ia berani memikul resiko.

Nah, dalam konteks ini Sukmawati sudah “apa boleh buat” karena dia sekarang sudah mulai “menuai badai” dari “angin yang ditaburnya”.

Kedua, unsur obyektif yaitu menimbulkan akibat membahayakan, merusak/menghilangkan kepentingan/ kepentingan yang dipertahankan oleh hukum dalam hal ini terkoyaknya sendi ketentraman masyarakat (NKRI).

Sukmawati seharusnya dapat membayangkan bahwa term “azan”, “cadar”, adalah kosa kata yang sangat sensitif untuk diperbanding-bandingkan -terlebih lagi- dengan fallacy logical (sesat pikir) yang disusunnya secara sadar. Kalau memang sudah mengaku tidak paham syariah, mengapa mengeluarkan ujaran-ujaran yang berkaitan syariah ?

Mari kita telisik pembelaannya, seperti ujarnya di sebuah media :

“Soal kidung ibu pertiwi Indonesia lebih indah dari alunan azanmu, ya boleh aja dong. Nggak selalu orang yang mengalunkan azan itu suaranya merdu. Itu suatu kenyataan. Ini kan seni suara ya. Dan kebetulan yang menempel di kuping saya adalah alunan ibu-ibu bersenandung, itu kok merdu. Itu kan suatu opini saya sebagai budayawati,” ujar Sukmawati.

“Jadi ya silakan orang-orang yang melakukan tugas untuk berazan pilihlah yang suaranya merdu, enak didengar. Sebagai panggilan waktu untuk salat. Kalau tidak ada, akhirnya di kuping kita kan terdengar yang tidak merdu,” sambungnya lagi.

Jawaban pembelaan ini justeru semakin menegaskan bahwa sejak awal dia punya kesadaran pengetahuan namun tidak mencegah akan kemungkinan terjadinya akibat yang tidak dikehendakinya.

Lalu, apakah kualifikasi juridis yang bisa disangkakan kepadanya ? Saya pikir para ahli hukum yang lebih berkompeten bisa memberikan jawabannya.

Namun di luar dari diskusi ini, ada satu hal yang kuat. Ini cerita anak manusia yang diwakili sepotong nama -Sukmawati- yang fobia dan bencinya kepada Islam sudah pada tingkat ke ubun-ubunnya.

Mudah-mudahan Allah memberikan petunjuk kepada Bu Sukmawati.

Semoga…

 

Ahsanul Fuad Saragih, S.H, M.A
Mantan Sekretaris Umum Ikatan Alumni Fakultas Hukum USU

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.