Sandi Uno
Pasangan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno bersama pimpinan teras Partai Keadilan Sejahtera. [Photo: PKS Jakarta]
AdalahPay

SatuNusaNews – PolMark Indonesia melalui lembaga surveynya PolMark Reseacrh Center (PRC) merilis prediksi terjungkalnya Ahok di putaran pertama Pilkada DKI. Dalam survey yang dirilis 05 Oktober 2016 kemarin, menunjukkan tren elektabilitas Ahok terus tergerus tajam, sehingga sangat mungkin menjelang pencoblosan suara Ahok – Djarot berada di bawah penantangnya Anies – Sandi dan Agus – Silvy.

Untuk Pilkada DKI 2017, PRC telah mengadakan tiga kali survei, yaitu pada bulan Februari, Juli dan Oktober 2016. Survei ketiga PRC PolMark Indonesia yang kegiatan wawancara/turun lapangannya diadakan pada 28 September – 4 Oktober 2016 lalu.

Menganalisa hasil survey, Eep Saefullah Fatah meyakini Pilkada DKI akan berlangsung dua putaran. Hal itu berbasis hasil tiga kali survei yang sudah dilakukan serta riset dan pemetaan politik Jakarta, ditambah dengan kecenderungan pemilih Jakarta sejak Pilkada 2012.

“Saya pribadi menduga bahwa Pilkada Jakarta berpotensi besar berlangsung dalam dua putaran,” ungkap Eep.

Eep juga meyakini bahwa putaran pertama Pilkada DKI akan dimenangkan oleh pasangan Anies Baswedan – Sandiaga Uno usungan Partai Gerindra dan PKS. “Trend data yang tersedia menunjukkan bahwa pasangan Anies-Sandiaga berpotensi mendulang suara terbanyak dalam Putaran Pertama, diikuti oleh pasangan Basuki-Djarot,” terangnya.

Sangat besar kemungkinan petahana akan tumbang pada pilkada kali ini mengingat tersedia potensi yang cukup besar, mengulang fenomena serupa dalam Pilkada 2012 lalu.

Survei ini dilakukan terhadap 1.100 responden, yaitu warga Jakarta berhak pilih pada saat survei diadakan. Responden diambil dengan metode multistage random sampling (sampel acak bertingkat), diwawancarai secara tatap muka. Margin of error survei ini adalah +/- 2,9% dengan tingkat kepercayaan 95%. Responden terdistribusi secara proporsional di setiap Kota di DKI Jakarta.

Hasil survei menunjukkan bahwa petahana, pasangan Basuki Tjahaja Purnama – Djarot Saiful Hidayat memiliki elektabilitas 31,9% diikuti oleh Anies Rasyid Baswedan – Sandiaga Salahuddin Uno 23,2% dan Agus Harimurti Yudhoyono – Sylviana Murni dengan elektabilitas 16,7%. Masyarakat Jakarta yang belum menentukan pilihan sebesar 28,2%.

Trend elektabilitas Basuki mengalami penurunan sebesar 10,8% dalam rentang waktu Juli hingga Oktober ini (sekitar tiga bulan). Dalam survei PRC PolMark Indonesia bulan Juli 2016 Basuki memiliki elektabilitas sebesar 42,7% dan turun menjadi 31,9% pada Survei bulan Oktober 2016 ini.

Dari 31,9% responden yang memilih Basuki-Djarot dalam survei bulan Oktober ini, hanya 23,2% yang menyatakan pilihannya terhadap Basuki-Djarot sudah mantap, tidak akan berubah. Sementara itu, dalam survei bulan Juli 2016, dari 42,7% yang memilih Basuki-Djarot yang menyatakan mantap 28,7%. Dengan demikian, di kalangan pemilihnya yang mantap sekalipun, elektabilitas Basuki-Djarot mengalami penurunan sebesar 5,5%.

Trend serupa terjadi pada tingkat kepuasan masyarakat Jakarta terhadap kinerja Basuki sebagai Gubernur DKI Jakarta. Dalam survei Oktober 2016, tingkat kepuasan terhadap kinerja Gubernur adalah 61,8%. Angka ini merupakan penurunan sebesar 8% dari tingkat kepuasan sebesar 69,8% dalam survei Juli 2016 lalu.

Survei PRC PolMark Indonesia Oktober 2016 juga menunjukkan bahwa Basuki adalah kandidat yang paling dikenal warga. Sebanyak 97,1% warga kenal Basuki. Tetapi, hanya 58,3% yang mengaku suka pada Basuki. Sementara itu, Anies dikenal oleh 82,8% masyarakat Jakarta dan disukai oleh 63,1% masyarakat. Lebih banyak warga Jakarta yang menyukai Anies dibandingkan Basuki. Sedangkan Agus dikenal oleh 81,5% dan disukai oleh 53,5% masyarakat Jakarta.

Berikut adalah data hasil survei menyangkut popularitas dan kedisukaan para kandidat Wakil Gubernur. Djarot dikenal oleh 79,6% dan disukai oleh 46,9% warga. Sandiaga dikenal oleh 75,6% dan disukai oleh 50,8% masyarakat. Sementara Sylviana dikenal oleh 56,1% dan disukai oleh 32,7% warga Jakarta.

Secara umum masyarakat DKI Jakarta menilai Basuki-Djarot berhasil dalam hal penyediaan transportasi umum yang memadai, pembersihan sungai-sungai di Jakarta, perbaikan fasilitas angkutan dan jalan raya, dan perbaikan kinerja birokrasi. Sedangkan dalam hal penanggulangan banjir, penanggulangan kemacetan, penertiban “pemukiman liar”, dan penertiban pedagang kaki lima (PKL), Basuki-Djarot dinilai gagal. #

Facebook Comments