AdalahPay

SatuNusaNews – Sebagaimana diketahui bahwa Universitas Hasanuddin (Unhas) telah ditetapkan sebagai Perguruan Tinggin Negeri Badan Hukum (PTN-BH), tertuang dalam Peraturan Pemerintah (PP) nomor 82 tahun 2014. Selanjutnya dijabarkan dalam PP nomor 53 tahun 2015 tentang Statuta Universitas Hasanuddin.

Pihak managemen kampus jauh hari telah mempersiapkan diri menyambut dimulainya penerapan peralihan dari perguruan tinggi badan layanan umum (BLU) untuk mentransformasi diri masuk era perguruan tinggi negeri berbadan hukum (PTN-BH). Salah satu langkah Unhas tersebut adalah dioperasikannya kantor implementasi PTN-BH di nahkodai Prof Deddy Tikson, berbagai persiapan telah dilakukan, upaya optimal menggodok berbagai hal yang terkait langsung dengan langkah awal seperti sosialisasi yang massif mengenai Unhas PTN-BH dan terakhir pembuatan draf Peraturan Rektor mengenai tata cara dan syarat keanggotaan Senat Akademik Pertama Kali (SA-PK), selanjutnya draf tersebut disahkan oleh Senat Universitas bulan Agustus lalu.

Langkah berikut penjaringan calon anggota senat akademik di tingkat fakultas yang menghasilkan enam calon dan diusulkan ke rektorat, selanjutnya rektor dibantu tim seleksi menetapkan empat anggota SA-PK setiap fakultas, hasil akhir dikukuhkannya keanggotaan SA-PK periode 2015 – 2018 berjumlah 82 orang (56 orang wakil Dosen Fakultas, 4 orang dari Kantor Implementasi PTN-BH, 22 orang anggota ex-officio yakni Rektor, Wakil Rektor, Dekan dan Ketua Lembaga/Direktur PPS).

Rapat pleno pertama memilih dan menepkan Prof Tahir Kasnawi dan Prof Muh Restu sebagai ketua dan sekertaris SA-PK periode 2015-2018. Adapun Keanggotaan Majelis Wali Amanat (MWA) berjumlah 19 orang (terdiri dari Menteri, Gubernur, Rektor, Ketua SA, 8 orang wakil Dosen, 3 orang wakil Masyarakat, 2 orang wakil Tenaga Kependidikan, Ketua IKA, Ketua Senat Mahasiswa) diusahakan pembentukannya oleh SA-PK paling lambat akhir tahun ini dikirim ke Menteri untuk ditetapkan. Salah satu wewenang MWA adalah memilih, mengangkat dan memberhentikan Rektor.

Universitas Hasanuddin diharapkan mulai tahun depan sudah mendapat kepercayaan dari pemerintah untuk mengelola penuh (otonomi) aspek akademik maupun aspek non akademik, adapun otonomi akademik tidak terlalu berbeda dengan PTN-BLU, tapi yang berbeda ‘signifikan’ adalah pemberian otonomi pengelolaan non akademik, Unhas secara mandiri akan memaksimalkan semua potensi untuk pengelolaan keuangan dan kepegawaian.

Momentum ini tentu akan memberi ‘keleluasaan’ bagi managemen kampus melakukan improvisasi dan pemanfaatan sebaik-baiknya semua sumber daya yang dimiliki Unhas, mengoptimalkan pengelolaan aset-aset unhas untuk semakin produktif dan memberi kontribusi (revenue), serta ikut aktif ‘mensupport` peningkatan kegiatan Tridarma Perguruan Tinggi. Managemen kampus harus bekerja keras, untuk terus survive dan harapan kita manageman dapat mengantar Unhas menjadi Universitas yang disegani dan makin bermartabat di mata masyarakat berbagai kawasan.

Salah satu komponen penting untuk memajukan Unhas PTN-BH adalah peran aktif alumni, dengan segala potensi dan jejaring yang dimiliki para alumni, diharapkan memberi sumbangsih strategis, alumni dapat memajukan Universitas dengan menjalin kerja sama terintegrasi, alumni dapat memanfaakan dan menyalurkan hasil-hasil penelitian dan ikut mendaya-gunakan potensi sumber daya yang dimiliki Universitas.

Alumni dapat meningkatkan sinergi kerjasama berupa penyaluran tekhnologi tepat guna ke masyarakat luas, juga dapat mensponsori setiap event yang melibatkan Universitas dan stakeholder lainnya. Berbagai peran alumni diharapkan menjadi ‘pendorong’ untuk mengakselerasi Unhas menjadi kampus yang disegani baik dari segi akademik maupun non akademik, sehingga nantinya Unhas dapat menjadi barometer ilmu pengetahuan, seni dan tekhnologi di tanah air dan ikut memberi sumbangsih dalam meningkatkan kualitas peradaban umat manusia pada umumnya.

Unhas era PTN-BH dengan otonomi pengelolaan yang sangat besar, menggantung banyak harapan dan angin segar dalam mengakselerasi pencapaian Visi Unhas sebagai pusat unggulan dalam pengembangan insani, ilmu pengetahuan, tekhnologi, seni dan budaya berbasis benua maritim indonesia (BMI). Meskipun demikian tidak sedikit juga suara `sumbang` terdengar agak pesimis dengan penerapan Unhas PTN-BH, kalimat paling sering kita dengar adalah PTN-BH menjauhkan kampus dari masyarakat kita yang `midle-down`, terlebih kampus dianggap akan menjadi ajang komersialisasi, prvatisasi dan elitis.

Tapi Unhas bisa menepis tudingan tersebut dengan berkomitmen melaksanakan UU nomor 12 tahun 2012 pasal 74 ayat 1, berbunyi: PTN wajib mencari dan menjaring calon mahasiswa yang memiliki potensi akademik tinggi, tetapi kurang mampu secara ekonomi dan calon mahasiswa dari daerah terdepan, terluar, dan tertinggal untuk diterima paling sedikit 20% dari seluruh mahasiswa yang diterima dan tersebar pada semua program studi.

Pemerintah Republik Indonesia telah menetapkan Unhas sebagai PTN-BH, selayaknya semua warga kampus (mahasiwa, dosen, pegawai), pemangku kepentingan (semua stakeholder) dan masyarakat luas, bahu-membahu dalam membawa `kapal besar` Unhas berlayar dan berlabuh di pulau yang mulia sebagaimana cita-cita kita bersama. SEMOGA TERWUJUD !!!

 

Kak Chunank

Oleh
A  Arsunan Arsin
Anggota Senat Akademik
Universitas Hasanuddin

Facebook Comments