Partai Nasdem
AdalahPay

SatuNusaNews – Dalam sebuah kesempatan, Senin 19 Januari 2015 di Gedung DPR RI, Jakarta mantan Sekjen Partai Nasdem mengemukakan persetujuannya atas wacana penerapan hukuman mati bagi para koruptor di Indonesia. Namun ironisnya, kini dia sedang berkutat dengan kasus korupsi yang menjeratnya.

“Saya pikir memang perlu dipikirkan langkah-langkah itu, kalau sampai tahap yang besar dan benar-benar merusak,” kata Rio, di Gedung DPR, Jakarta, Senin (19/01/2015). Sebab, kata Rio, tindak kejahatan korupsi juga merugikan bangsa dan negara. Menurutnya, akibat ulah para koruptor dapat menyengsarakan masyarakat.

“Kalau memang sampai tahap yang benar-benar merusak negara,” tegas anggota Komisi III DPR dari fraksi Partai Nasdem yang membidangi hukum itu.

Anggota Komisi Hukum DPR yang juga Sekjen Partai Nasdem Patrice Rio Capella ditetapkan sebagai tersangka oleh penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada Kamis (15/10). Rio menjadi tersangka untuk kasus dugaan penerimaan suap terkait proses penanganan perkara bantuan daerah (bansos) di Sumatera Utara, yang ditangani Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara atau Kejaksaan Agung.

“Penyidik menyimpulkan, adanya dua bukti permulaan yang cukup yang disimpulkan terjadi dugaan tindak pidana korupsi yang diduga dilakukan GPN [Gatot Pujo Nugroho] selaku Gubernur Sumut beserta ES [Evy Susanti], ini adalah pihak swasta,” kata Pelaksana Tugas Wakil Ketua KPK Johan Budi di Gedung KPK, Jakarta.

Dalam kasus yang sama, tambahnya, penyidik juga telah menemukan dua bukti permulaan yang cukup untuk menetapkan PRC (Patrice Rio Capella) sebagai tersangka. “PRC selaku anggota DPR,” ujar Johan. PRC, lanjut Johan, dijerat dengan Pasal 12 huruf a, huruf b, atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor  20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Diungkapkan Johan, PRC diduga menerima sejumlah “hadiah” dari Gatot dan Evy. Ancaman terhadap pelanggar pasal tersebut adalah penjara paling sedikit 4 tahun dan paling lama 20 tahun penjara ditambah denda paling sedikit Rp 200 juta dan paling banyak Rp 1 miliar. “Dengan ditetapkannya PRC, PGN, dan ES, ketiganya akan dilakukan pemeriksaan. GPN dengan ES diduga memberi hadiah atau janji, PRC diduga menerima,” tutur Johan lagi.

Rio sudah pernah diperiksa KPK pada 23 September 2015 lalu sebagai saksi dalam kasus dugaan tindak pidana korupsi pemberian suap kepada hakim dan panitera Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Medan untuk tersangka Gatot Pujo Nugroho dan istrinya, Evy Susanti.

Rio berpandangan, seorang koruptor seharusnya dihukum seberat-beratnya atau diberi efek jera layaknya bandar narkoba, apalagi jika tindak korupsi yang dilakukannya berpotensi mengganggu stabilitas negara. “Kalau memang sampai tahap yang benar-benar merusak negara,” tuturnya.

Dengan status hukumnya saat ini sebagai tersangka, tak tau apakah Rio Patrice Cappela akan tetap mempertahankan sikapnya tersebut atau malah melupakan ucapannya. #

Facebook Comments