AdalahPay

SatuNusaNews – Tim Pencari Fakta Komite Umat (Komat) untuk Tolikara menyatakan insiden penyerangan Tolikara sama sekali bukan kasus kriminal biasa. Kasus tersebut juga kata Komat, bukan buah dari spontanitas. Komat juga menenggarai bahwa ada upaya untuk menciptakan dan mengusik kehidupan beragama di Papua secara sistematis.

“Faktanya massa yang mengepung jamaah shalat Ied berasal dari tiga titik, dan ada suara-suara yang mengomando penyerangan,” kata Ustad

Fadlan Garamatan selaku ketua Tim Komat, di Jakarta Selatan, Jumat 31 Juli 2015. Tim Komat menyimpulkan bahwa insiden di Tolikara adalah pelanggaran HAM. Komat mensinyalir ada sekelompok pihak yang berupaya menghalangi umat beragama lain untuk melakukan ibadah dan menjalankan ajaran-ajaran agamanya di tanah Papua.

IMG20150731142333-2

“Presiden GIDI patut dijadikan tersangka, karena tidak mengindahkan dan abai terhadap peringatan yang dilakukan Kapolres,” ujar Fadlan.

Komat memberi rekomendasi agar penegak hukum menemukan dan mengadili aktor intelektual yang menandatangani surat edaran larangan pelaksanaan shalat Ied dan melarang jilbab.

“Selama aktor intelektual belum diadili, maka rasa keadilan masyarakat tidak akan terpenuhi,” kata Fadlan.

Selain itu juga faktanya massa GIDI yang berkumpul Telah melakukan teror dengan melakukan pelemparan baik secara langsung kepada jamaah sholat ied ataupun dengan melemparkan batu ke atap seng kios yang membuah suara gaduh untuk membubarkan sholat ied.

“Pembakaran dimulai dari rumah ketua DKM, Sdr Sarno, yang jaraknya terhitung sangat dekat dengan masjid yang hanya 20 meter,”ujar Jubir Komat Tolikara.

Sementara itu Anggota DPR RI, M Nasir merespon bahwa yang disampaikan ust Fadlan, sepertinya kepolisian sudah bekerja, namun karena adanya pemerintah bayangan di Tolikara menjadikan hal tersebut bisa terjadi. Yang terpenting kepolisian bersama TPF Komat Tolikara bisa menyelesaikan persoalan ini secara objektif dan transparan.# (Yudi Permana)

Facebook Comments