AdalahPay

SatuNusaNews – Keabsahan berkas administrasi pasangan bakal calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Depok yang diusung PDI Perjuangan, Dimas Oky Nugroho-Babai Suhaimi, dipersoalkan sejumlah kalangan. Salah satunya, Rudisamin. Salah seorang kader PDI P yang mengikuti penjaringan bakal calon wali kota dari partai banteng menduga ada pemalsuan tanda tangan Sekretaris DPC PDIP Depok Totok Raharjo.
Menurut Rudisamin yakin ada pemalsuan tanda tangan Totok di berkas B2, B3, dan B4. Berkas B2 merupakan surat pernyataan tidak akan menarik pencalonan atas bakal pasangan calon yang dicalonkan dan ditandatangai ketua dan sekretaris. Berkas model B3 adalah surat pernyataan kesediaan menjadi bakal calon secara berpasangan dalam satu kesatuan.

Adapun berkas model B4 merupakan surat pernyataan tidak akan mengundurkan diri sebagai bakal pasangan calon. “Ketiga berkas itu dipalsukan tanda tangan sekretarisnya. Saya memiliki buktinya,” kata Rudisamin, Senin (03/08).

“Saya sudah laporkan ke DPP (Dewan Pimpinan Pusat PDIP) dan Mabes Polri pemalsuan tanda tangan itu,” kata Rudisamin sebagaimana dikutip dari Republika.

Menurut dia, salah satu syarat untuk pendaftaran pasangan bakal calon wali kota adalah harus mendapatkan persetujuan Sekretaris PDIP Depok dan kehadirannya saat menyerahkan berkas pendaftaran ke KPU Depok.

Tapi, saat pendaftaran pada 27 Juli lalu, sekretaris tidak hadir dan tanda tangannya dipalsukan. “Sangat disesalkan,” ucapnya. Sebagai kader PDIP, Rudisamin tidak ingin ada celah hukum yang bisa menyebabkan keabsahan pasangannya digugat di kemudian hari. Untuk itu, dia berani membeberkan borok dari berkas administrasi pasangan Dimas-Babai. “Saya bisa buktikan bahwa tanda tangan itu palsu. KPU harus objektif melihat berkas administrasinya,” ucapnya.

Dia juga menuding DPC PDIP telah melanggar janjinya dalam pemilihan bakal calon yang maju pada Pilkada Depok. Musababnya, Ketua PDIP Depok Hendrik Tangke Allo sebelumnya telah memastikan bakal calon yang maju dalam Pilkada Depok adalah hasil dari penjaringan tingkat DPC.

Saat itu, ada sekitar 14 bakal calon yang mendaftar dan mengerucut sampai tujuh orang di tingkat DPD provinsi. Lalu, ditetapkan tiga besar dari 14 bakal calon wali kota Depok dari penjaringan partai besutan Megawati Soekarno putri itu, yakni Achmad Nasir Biasane, Soetadi Dipowongso, dan Rudisamin.

Ia menjelaskan, setelah tiga nama itu diseleksi, akhirnya dua nama dicoret dan Rudisamin terpilih sebagai kader yang maju menjadi bakal calon. Namun, setelah dirinya terpilih hasil dari penjaringan di tingkat DPC dan DPD, dan diserahkan ke tingkat DPP, saat itu tidak ada wakil yang mendapinginya.
Nah, saat itu nama Dimas-Babai muncul menjadi wakil dari PDIP, dan nama dirinya yang masih bercokol menjadi bakal calon PDIP. Namun, tak berapa lama pada 14 Juni, nama Dimas-Babai ditetapkan menjadi bakal calon tanpa mengikuti seleksi yang diadakan PDIP, untuk bakal calon Walikota.

Padahal, saat awal penjaringan, Hendrik, kata dia, memastikan bakal calon wali kota Depok dari PDIP yang maju harus mengikuti seleksi. “Hendrik memastikan saat awal yang bakal terpilih adalah yang mengikuti penjaringan,” kata Rudisamin. #

Facebook Comments