AdalahPay

SatuNusaNews – Prediksi para pengamat ekonomi mengenai status Rupiah yang akan menguat jika Jokowi menjadi Presiden nampaknya berbanding terbalik. Hari ini Rupiah terhadap dollar AS Tembus Rp.13,800 sama seperti tahun 1998 waktu Indonesia terkena krisis moneter.

Dari penelusuran tim SatuNusaNews.com, banyak para pakar ekonomi pra Pemilu Presiden 2014 memprediksi bahwa jika Joko Widodo menjadi Presiden Rupiah akan terus menguat, hal ini terus di gembar gemborkan  para pendukung Jokowi bahwa kepercayaan dunia usaha terhadap kepemimpinan Jokowi dapat berdampak positif bagi Rupiah.

Berikut kami sajikan rangkuman pernyataan para pakar sejak sebelum pemilu Presiden 2014 hingga kini:

1. Pada 27 Januari 2014, Anton Gunawan, Ekonom Bank Danamon memprediksikan Rupiah akan menguat Rp.11,600 – Rp. 11,000 setelah Pilpres 2014, hal ini diproyeksikan jika yang terpilih menjadi presiden adalah Joko Widodo.

“Kami melihat rupiah masih mengalami gejolak pada semester I tahun ini. Akan tetapi, nilai tukar akan kembali menguat pada paruh kedua 2014 setelah pemilihan umum. Indonesia membutuhkan presiden baru yang memiliki kepemimpinan bagus untuk meyakinkan investor masuk ke Indonesia,” ujarnya. Seperti yg dikutip Kompas

2. Bankir HSBC Ali mengatakan saat menghadiri acara HSBC Global Connections Report and Indonesia Economi Outlook 2014 di Mercantile Club gedung WTC Jakarta

“Percaya atau nggak sudah ada beberapa analis luar seperti Morgan Stanley sampai menghubungkan, kalau Jokowi jadi presiden, Rupiah bisa tembus Rp 10 ribu/dolar AS. Tapi ini bisa kelihatan sendiri di Jumat kemarin. Begitu Jokowi ngomong mencalonkan diri jadi presiden, market langsung naik, bond (obligasi), IHSG, rupiah, ini luar biasa sekali Jokowi,” (20/3/2014) seperti dikutip dari DetikFinance .

3. Kepala Riset Samuel Sekuritas Lana Soelistianingsih mengatakan menguatnya rupiah itu akan menekan dolar AS hingga ke kisaran Rp 10.500-10.800 dalam jangka pendek. Bahkan, dalam jangka panjang dolar bisa balik ke kisaran Rp 9.000-an jika Jokowi menjadi presiden.

“Bisa saja lah. Kalau ditanya bisa, selalu bisa, tapi itu kan jangka panjang. Butuh proses. Kalau jangka pendeknya paling baik mungkin bisa menguat ke 10.800-10.500 itu sudah paling kuat,” katanya kepada DetikFinance, Jumat (16/5/2014).

4. Rendahnya tingkat kepercayaan pasar terhadap pasangan Prabowo-Hatta diperkirakan membuat banyak investor meninggalkan pasar, sehingga tingkat beli dolar akan tinggi. Kurs bisa menembus Rp 12.500 per dolar Amerika. Demikian kata Kiswoyo Analis dari Investa Saran Mandiri, ketika dihubungi Tempo, Ahad malam, 6 Juli 2014.

“Dalam kondisi itu, Bank Indonesia harus melakukan intervensi, sebab berpotensi jatuh hingga Rp 13 ribu per dolar AS,” kata Kiswoyo ketika dihubungi Tempo, Ahad malam, 6 Juli 2014.

5. Presiden Joko Widodo mengatakan bahwa dirinya yakin pelemakan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat tak akan berlangsung lama, Jokowi Yakin di tahun 2015 rupiah sudah lebih gagah dibanding tahun 2014.

“Dengan fundamental ekonomi kita, dengan perbaikan ruang fiskal kita, ya moga-moga (pelemahan rupiah) tidak berjalan lama. Mulai tahun depan moga-moga sudah mulai baik,” kata Jokowi usai menghadiri Rapat Kerja Pelaksana BPK di Kantor pusat BPK, Jakarta, Selasa (16/12) malam.

6. Joko Widodo kembali membuat pernyataan terkait terus melemahnya Rupiah terhadap Dollar AS. Dirinya berkilah bawah penguatan Rupiah belum terjadi lantaran dirinya baru 3 bulan menjabat sebagai Presiden Indonesia.

“Tapi ini kan memerlukan waktu, saya ini baru 3 bulan lebih sedikit lho,” kata Jokowi pada acara Food Security Summit 2015, di JCC, Senayan, Jakarta, Kamis (12/2/2015).

Meski rupiah melemah, Jokowi menyebut, kondisi perekonomian Indonesia masih dalam batas-batas normal. Pemerintah masih mampu mengontrol pergerakan inflasi hingga neraca perdagangan.

“Tapi yang jelas fiskal kita sekarang sudah sehat, inflasi sudah bisa dipegang. Kemudian yang berkaitan dengan neraca juga sudah semakin baik,” ujarnya.#

 

Facebook Comments