AdalahPay

Pandangan Orientalis

SatuNusaNews – Pada umumnya pandangan mereka seputar pengumpulan Abu Bakar terkesan“minor”. R. Blachere misalnya mempertanyakan apakah pengumpulan Abu Bakar itu solusi bagi kecemasan ‘Umar? Sebenarnya, lanjut Blachere, masyarakat membutuhkan kumpulan wahyu tertulis yang diakui otoritasnya. Tetapi apakah itu yang dikehendaki suhuf Abu Bakar? Tidak, karena suhuf-suhuf itu milik pribadi Abu Bakar dan ‘Umar bukan dalam kapasitas mereka sebagai kepala negara yang secara umum menunjukkan bahwa khalifah pertama dan kawannya itu merasa inferior atau gengsi alangkah baiknya kalau seorang kepala negara tidak lah lebih rendah posisinya dari beberapa sahabat yang beruntung memiliki mushaf sendiri. Oleh karena itu tidak ada dalam benak Abu Bakar dan ‘Umar membuat mushaf acuan bagi kaum muslimin.

Kritikan lain juga datang dari Richard Bell mengenai kumpulan resmi Al-Quran yang menurutnya “mungkin kritikan paling berat” karena bentuk formal demikian dapat diduga memiliki keabsahan formal yang dinisbatkan kepadanya, tetapi bukti untuk hal ini tidak bisa kita temukan. Kumpulan-kumpulan Al-Quran yang lain masih tetap dipandang absah di berbagai daerah. Pertikaian yang mengarah kepada resensi Al-Quran di masa Utsman mungkin tidak akan timbul jika waktu itu sudah ada naskah resmi di tangan khalifah yang bisa dijadikan rujukan. Demikian pula, gambaran tentang diri ‘Umar yang menegaskan bahwa ayat perajaman berasal dari Al-Quran, terasa amat sulit untuk diselaraskan masalah kepemilikannya atas kumpulan resmi Al-Quran yang berasal dari masa Abu Bakar.

Mari kita menjawab tuduhan-tuduhan miring tersebut dengan hati dan kepala dingin. Analisis kaum orientalis terhadap upaya pengumpulan naskah Al-Quran sangat beraroma penafsiran historis yang tidak pada tempatnya dan memakai sandaran riwayat-riwayat yang lemah untuk mendukung tesis yang mereka kemukakan. Analisis tersebut sangat rentan terhadap kritikan. Banyak sekali pertanyaan historis sebagai umpan balik yang dapat diajukan berkaitan dengan asumsi yang mereka kembangkan, sehingga penafsiran yang bertumpu pada kritik historis menjadi sia-sia belaka. Seandainya kumpulan Abu Bakar itu untuk kepentingan pribadi untuk apa beliau repot-repot membentuk komisi pengumpulan dan menyuruh orang untuk menyerahkan bahan-bahan naskah Al-Quran untuk diteliti komisi Zaid? Jika suhuf Abu Bakar diangap kepemilikan pribadi mengapa beliau tidak mengamanatkan ahli warisnya untuk menyimpan suhuf tersebut dan bahkan mewariskannya kepada ‘Umar yang berarti kepemilikan itu resmi milik negara?.

Kalau toh kita mencurigai tindakan Umar yang menyerahkannya suhuf itu kepada Hafshah sepeninggalnya dan bukan kepada Utsman yang berarti sifatnya khusus. Kecurigaan tersebut tidak berdasar, karena berbeda dengan proses pengangkatan ‘Umar sebagai khalifah yang melalui cara ta’yin, proses pengangkatan Utsman dilakukan melalui proses musyawarah dalam sebuah tim suksesi yang dibentuk oleh ‘Umar sebelum ia wafat. Sedangkan tuduhan Abu Bakar berkoalisi dengan ‘Umar yang hanya memikirkan ego pribadi serta tidak memperhatikan maslahat yang lebih besar. Secara logika, apa sih harga sebuah naskah Al-Quran bagi seorang yang telah menghafalkannya pada masa Rasulullah? Dan apa pula harga naskah tertulis pada saat orang sangat mengandalkan dan mempercayai hafalan Al-Quran di luar kepala? Kalau bukan demi kemaslahatan umat seluruhnya.

Kita tidak menafikan adanya usaha-usaha individual untuk mencatat Al-Quran yang mendahului atau bahkan bersamaan dengan pengumpulan Abu Bakar, tetapi perlu dicatat bahwa tujuan mereka bukan untuk pengumpulan resmi tetapi sebatas sebagai pendukung hafalan yang mereka miliki. Yang terjadi adalah ketika para sahabat mengetahui tim yang dibentuk oleh Abu Bakar mereka berbondong-bondong memnyerahkan naskah yang ada pada mereka untuk diteliti Zaid dan kawan-kawannya. Akan tetapi target kaum orientalis hendak mengesankan bahwa pengumpulan Abu Bakar tersebut tidak serius karena sifatnya yang pribadi sehingga menghilangkan spesifikasi tawatur dalam usaha pengumpulan Abu Bakar.

Klaim kebsahan mushaf-mushaf individual di berbagai daerah kekuasaan islam, juga sangat lemah jika dihadapkan kepada fakta-fakta sejarah dan riwayat yang otentik. Mushaf awwal yang resmi berbeda dengan mushaf-mushaf individual dari aspek kesesuaiannya yang mutlak dengan teks wahyu yang otentik sesuaimuraja’ah terakhir yang dilakukan Rasul dengan Jibril as. pada tahun kewafatannya. Karena seperti yang pernah disnggung, mushaf-mushaf lain terkadang ditulis berdasarkan hafalan yang tak jarang berisi beberapa tafsiran ayat atau doa-doa ma’tsurseperti mushaf Ibnu Mas’ud dan mushaf Ubay. Akan tetapi, meski memang harus diakui, menurut M. Abdullah Diraz13, meski keutamaan mushaf Abu Bakar lebih tinggi, pelestariannya yang hanya terbatas pada figur dua khalifah pertama, telah sedikit banyak mengesankan sifat pribadi dan belum menjadi dokumen resmi bagi khalayak umum sampai saatnya pembebasan Armenia pada masa pemerintahan Khalifah Utsman. Oleh karena itu menilik sejarah penulisan dan pengumpulan Al-Quran lebih erat hubungannya dengan memahami tantangan-tantangan sosial yang dihadapi negara islam berikut cara merespon tentang itu.14

Demikian pula dengan klaim kontradiksi antara keyakinan sementara ‘Umar bahwa ayat perajaman bagian dari Al-Quran dengan kepemilikannya atas mushaf resmi yang berasal dari Abu Bakar, tidak memperhatikan hakikat ilmiah yang diterapkan sahabat dalam usaha kompilasi Al-Quran. Karena ‘Umar tidak berhasil menghadirkan dua saksi, Zaid menolak ntuk mencantumkannya. Sehingga para ulama 15 menganggapnya sebagai riwayatahad yang tidak bisa dibuktikan sebagai Al-Quran. Paling tidak apa yang diyakini ‘Umar itu merupakan sunnah Nabi. Dari sana para pakar menta’wilkan pernyataan ‘Umar:وكان فيما انزل عليه tidak bertentangan denganmafhum sunnah. Karena sebagaimana diyakini mayoritas ulama dan umat islam bahwa Jibril as turun membawa wahyu berupa Sunnah di samping Al-Quran. Sehingga stetemen Umar: والرجم في كتاب الله حق harus dipahami dalam kontek bahwa perajaman adalah bagian tak terpisahkan dalam syariat Allah, hukum dan ketentuanNya, atau bisa jadi statemen beliau merujuk kepada ayat : أو يجعل الله لهن سبيلا , yang mana Sunnah telah menjelaskan rinciannya yaitu mencambukghoiru mukhson dan merajam mukhson. Di samping itu terdapat bukti lain bahwa ‘Umar tidak meyakini ayat assyaikhu wa al syaiikhotu sebagai Al-Quran. Ibnu Hamdawaih meriwayatkan dengan sanadnya dari Hasan Al-Bishri dari ‘Umar ia berkata: “Saya berniat mengundang beberapa sahabat muhajirin dan anshor yang dikenal nama dan nasabnya untuk bersedia mencatat kesaksian mereka dipinggir mushaf: “Inilah kesaksian ‘Umar bersama fulan dan fulan bahwa Rasul pernah merajam pezina yang telah menikah. Karena saya cemas orang-orang islam nanti mangkir dari hukum rajam karena mereka tidak menemukan ketentuannya dalam Kitabullah”. Dalam riwayat lain Umar berkata “Kalau tidak karena gunjingan orang bahwa saya menambah-nambahi Al-Quran niscaya akan saya tulis (ayat rajam) di dalam mushaf”. # (Fahmi Salim Zubair, MA)

bersambung : bagian 6

Facebook Comments