AdalahPay

SatuNusaNews– Gede Pasek Suardika Memfasilitasi pertemuan antara Yulianis dengan Mahfud MD dikantor Mahfud MD Rabu(29/07). Dalam pertemuan ini Yulianis mencurahkan Isi hati tentang perkembangan kasus yang sedang dihadapinya.

Dalam pertemuan dengan Mahfud MD dan juga Gede Pasek Suardika, Yulianis mengaku ketiganya sepakat untuk bahu-membahu menegakkan keadilan yang kerap tersisihkan di ruang-ruang pengadilan dan institusi-instusi hukum yang ada di negeri ini, terutama institusi KPK. “Pada pertemuan itu, seperti pernah diungkapkan lewat Twitter, Pak Mahfud kembali berjanji akan membantu menyampaikan apa yang saya dan teman saya ungkapkan ke KPK, Kejaksaan Agung, Polri, dan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia,” tutur Yulianis.

Ia juga menyatakan, Mahfud MD dan juga Gede Pasek terheran-heran dan bingung begitu dipaparkan bagaimana “hebat”-nya Nazaruddin atau NZ “mengatur” orang-orang dan aparat hukum, termasuk yang ada di KPK. “Ketika saya ceritakan soal perusahaan minyak sawit Nz di Riau yang sampai sekarang masih terus berproduksi dan mendapatkan keuntungan sekitar Rp 300 juta per hari, Pak Mahfud dan Pak Pasek kelihatan heran sekali. Padahal itu baru dari satu perusahaan, masih banyak perusahaan NZ yang sampai sekarang masih berjalan dan KPK seolah menutup mata. Selama di penjara saja, total penerimaan NZ, dari data yang saya telusuri, bisa mencapai Rp 1 triliun,” ungkap Yulianis.

Kepada Mahfud dan Pasek serta orang-orang yang ada dalam di ruang kerja Mahfud, Yulianis mengaku memperlihatkan secara selayang pandang aset-aset Nz yang telah ia inventarisasi dan hanya sebagian kecil saja disita KPK, itu pun kemudian seakan sekadar proforma saja. “Saya memiliki catatan aset Nz sebanyak 57 halaman, yang per halamannya mencatat 10 sampai 15 aset yang dimiliki Nz,” kata Yulianis. Jadi, kalau per halaman dipukul rata 12 saja, aset yang dimiliki Nz mencapai 684 item.

“Menurut teman saya yang juga ikut dalam pertemuan tadi, sekarang yang menjadi operator perusahaan-perusahaan Nz adalah Aan, mantan sopir Nz,” ungkap Yulianis.

Ia juga mengaku telah mengungkapkan semuanya ke penyidik KPK. “Para penyidik KPK itu bekerja sepenuh hati, bahkan sampai begadang bersama saya. Namun, setelah penyidikan, laporan itu diabaikan saja oleh para atasannya. Begitu pula akhirnya kesaksian-kesaksian saya di pengadilan. Para penyidik KPK itu jelas capek, kesulitan, dan telah curahkan semua pemikirannya, tapi dukungan di atasannya kurang,” ujarnya.

Sebelum pertemuan itu berlangsung pada Rabu petang, Mahfud MD mengatakan di akun twitternya bahwa KPK diambrukkan. ”Bersyukur, KPK yang diambrukkan sekarang mulai bangkit lagi dan tampak profesional,” tulis Mahfud.

Pernyataan Mahfud itu pun disambut komentar para follower Twitter-nya, termasuk dari pakar hukum pidana yang merupakan konseptor Undang-Undang KPK, Romli Atmasasmita. “Mas, yang bikin ambruk itu siapa? Saya amati KPK jilid 3 banyak terobosan-terobosan, seperti satu alat bukti bisa tersangka dan asas kolektif dilanggar,” kata Romli. Yang dimaksud “KPK jilid 3” adalah KPK di bawah kepemimpinan Abraham Samad.

Menurut Romli lagi, jajaran kepemimpinan KPK jilid 3 tidak mau mengintrospeksi dan tampak sarat pengaruh eksternal. “Contoh kasus AU, HP, dan BG. Saya tahu persis internal KPK,” ungkap Romli. HP adalah Hadi Poernomo, mantan Kepala Badan Pemeriksaan Keuangan dan mantan Direktur Jenderal Pajak, dan; BG adalah Komisaris Jenderal Budi Gunawan, calon Kapolri yang kemudian malah menjadi Wakil Kapolri.

Dengan sikap yang seperti itu, tambah Romli mengutip pernyataan Pelaksana Tugas Ketua KPK Taufiequrachman Ruki, 36 orang yang dijadikan tersangka korupsi oleh penyidik KPK ternyata kurang bukti. “Kasus HP dn BG juga sama. Yang buat ambruk: sikap arogan dan tanpa peduli hak asasi tersangka. Belum lagi soal penyadapan dan setoran PNBP fungsional KPK. Apa Mas sudah baca temuan BPK tahun 2013 soal ini? Pasti kaget dan tidak menyangka,” kata Romli lagi. PNBP adalah singkatan dari “penerimaan negara bukan pajak”.

Soal pernyataan “KPK diambrukkan”, Mahfud menjawab bahwa KPK diambrukkan oleh kekuatan antipemberantasan korupsi. “Tapi, harus diakui, dulu gempuran terhada KPK berhasil karena ada kekeliruan KPK sendiri,” kata Mahfud. KPK, lanjutnya, dikeroyok oleh kekuatan itu. “Tapi, dalam kasus terakhir, kasus BG, keroyokan itu berhasil karena KPK sendiri keliru,” ujar Mahfud.

Bukan hanya itu. Mahfud kemudian kembali menegaskan tentang kekeliruan KPK jilid 3. “KPK jilid 3 memang keliru. Oknumnya melibatkan diri dalam politik dan menersangkakan orang dengan nuansa politik. Ambruklah,” ungkap Mahfud.# (Pribuminews)

Facebook Comments