AdalahPay

SatuNusaNewsKeterlibatan pihak asing dalam aksi teror pembakaran Masjid di Tolikara kini menjadi perhatian serius dari Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT). Dengan fakta yang  ada dilapangan, kepolisian, dan BNPT mulai mendalami dugaan perencanaan dan campur tangan asing.

Menurut Kapolda Metro Jaya Inspektur Jendral Tito Karnavian, daerah Papua memiliki banyak kepentingan yang ada di belakang insiden tersebut, salah satunya kepentingan Papua Merdeka. Mereka yang pro Papua merdeka terus menggulirkan isu hak asasi manusia dan konflik horizontal.

“Karena kalau tidak paham setting-nya, ini ada beberapa kelompok, saya tahu, yang menginginkan kemerdekaan. Dan itu salah satu settingnya adalah mengungkap permasalahan konflik, isu hak asasi manusia, lain-lain. Selalu itu yang dikumandangkan terus menerus,” ungkap Tito.

Namun Tito enggan menyebutkan pihak mana yang diuntungkan dalam kasus Pembakaran di Tolikara kali ini sampai ada hasil penyelidikan dari pihak kepolisian setempat. Pernyataan Kapolda Metro Jaya ini nampaknya tidak bertepuk sebelah tangan, pasalnya Staff ahli BNPT Wawan Purwanto juga menduga adanya keterlibatan kelompok yang pro kemerdekaan yang dibantu oleh kekuatan asing yang sudah masuk di tanah Tolikara.

“Di sana multikompleks ya. Termasuk juga masalah gerakan pro kemerdekaan memang ada. Nah, ini memang ada dugaan-dugaan tertentu yang sedang didalami. Apakah itu ada unsur pro kemerdekaan tadi. Lalu, sinyalemen ada keterlibatan asing yang notabene melakukan kerjasama secara tertutup dengan sejumlah elemen yang ada di Tolikara,” paparnya seperti dikuti dari VOAIndonesia.

Wawan mengatakan bahwa Insiden pembakaran dan penyerangan warga Muslim di Tolikara adalah hasil perencanaan bukan aksi spontanitas. Dari sejumlah saksi yang telah diperiksa, umumnya pelaku penyerangan berasal dari luar daerah Tolikara, pasalnya penduduk setempat tidak mengenali pelaku penyerangan tersebut.

“Ada banyak pihak yang ikut terlibat didalam penyerangan. Tentu ini sudah ada unsur perencanaan karena ada pergerakan massa yang jumlahnya signifikan. Dari 150 menjadi sekitar 2.000 an orang. Bahwa mereka yang hadir bukan masyarakat sekitar Tolikara. Karena banyak yang tidak dikenal atau tidak familiar, sehingga menimbulkan dugaan bahwa ada yang merencanakan untuk itu jauh-jauh hari. Sehingga harus diusut tuntas siapa provokasi di balik ini semua,” tegas Wawan.

Aksi teror pembubaran dan pembakaran Masjid yang terjadi pada saat hari raya Idul Fitri menjadi perhatian nasional karena adanya pelanggaran HAM berat disana. Seperti diketahui, insiden ini dipicu oleh beredarnya surat edaran yang ditujukan kepada ummat Muslim agat tidak melaksanakan Ibadah dan tidak memakai Jilbab di Tolikara.#

Facebook Comments