AdalahPay

SatuNusaNews – Minggu malam, 19 Juli 2015 bertempat di Jakarta,telah berkumpul para tokoh Muslim dan tokoh Nasional yang menamakan sebagai Komite Umat untuk Tolikara Papua.

Tokoh-tokoh tersebut adalah KH.Hidayat Nur Wahid, KH Didin Hafifudin, KH Arifin Ilham, Ustad Bachtiar Nasir, Ustad Fadlan Garamathan, Ustad Muhammad Zaitun Rasmin, Ustad Farid Ahmad Okbah, Ustad Tiar Anwar Bachtiar, Ustad MustofaNahra Wardaya dan lain-lain.

Dalam kesempatan ini didapuk sebagai juru bicara Komite ini adalah Mustofa Nahrawardaya  yang sebagai perwakilan dari pemuda Muhammadiah dan Presiden Forum SatuNusa (Forsat).

Dalam pertemuan tersebut, menurut Mustofa Nahrawardaya mengatakan ada beberapa poin yang dibahas, diantaranya adalah:

01. Bahwa pernyataan pihak-pihak yang mengatakan ada kesalahpahaman dalam kasus Tolikara, adalah menyesatkan. Sebaiknya masyarakat diberikan informasi yang jujur dan membangun. Tidak menggiring opini yang menambah runyam persoalan.

02. Keluarnya surat dari Gereja Injili Di Indonesia (GIDI), sangat jelas merusak huhungan antar umat beragama. Surat tersebut melukai Umat Islam seluruh Nusantara karena tanpa basa basi, melarang Idul Fitri dan melarang Jilbab.

03. Tanpa surat itu, maka peristiwa penyerangan dan pembumihangusan kawasan Islam, TIDAK AKAN TERJADI.

04. Muslim di Tolikara sudah ngalah dengan TIDAK memiliki speaker di Masjid karena memang sudah dilarang bertahun-tahun. Kini hanya saat Iedul Fitri (setahun sekali) juga dilarang. Gereja itu telah menunjukkan diri dan kelompoknya sebagai ciri gerakan/gerombolan teroris karena telah menebar ketakutan di tengah masyarakat.

Menurut MustofaNahra kepada tim SatuNusaNews bahwa Komite ini juga membahas masalah pembangunan Masjid di Papua, bahkan akan dibentuk Tim Pencari Fakta untuk mencari fakta yang sebenarnya pasca kerusuhan kemarin. #

 

Facebook Comments