AdalahPay

SatuNusaNews – lanjutan bagian 3

Maka aku kumpulkan Al-Quran dari catatan-catatan lembaran lontar dan lempengan batu erta hafalan para sahabat, sampai akhirnya saya mendapatkan akhir surat attaubah dari abi khuzaimah yang tidak kuperoleh dari selainnya yaitu ayat “laqad ja’akum rasulun min anfusikum… maka Shuhuf-shuhuf itu disimpan oleh Abu Bakar sampai beliau wafat, kemudian oleh ‘Umar semasa hidupnya kemudian oleh Hafshah”.

Dalam riwayat lain terdapat keraguan Zaid dari Abi Khuzaymah atau Khuzaymah. Syekh Muhammad Abu Syahbah menegaskan bahwa riwayat pertamalah yang benar.

Seandainya ‘Umar tidak berhasil meyakinkan Abu Bakar dalam soal pengumpulan Al-Quran besar kemungkinan, menurut Abdusshabur Syahin, mereka berdua akan melakukan jajak pendapat kepada jumhur sahabat mengenai masalah kompilasi Al-Quran. Karena keputusan bersejarah itu tidak dapat diambil oleh dua orang sahabat saja mengingat Al-Quran merupakan Undang-undang Dasar negara islam.

Khalifah Abu Bakar menyusun juklak bagi komisi yang diketua Zaid yang mensyaratkan penerimaan catatan Al-Quran sesuai dengan hafalan sahabat lain dan catatan tersebut ditulis dihadapan dan atas perintah Rasulullah SAW, di samping harus disaksikan oleh dua orang saksi. Juklak itu dilaksanakan dengan teliti sampai-sampai konon ‘Umar membawa ayat perajaman, akan tetapi Zaid menolak untuk menulisnya, karena ‘Umar tidak mendatangkan dua orang saksi. Demikian pula perbedaan antara ‘Umar dan Zaid yang didukung oleh Ubay tentang ada tidaknya huruf (و) setelah kata (الأنصار) dalam Q.s. 9:100 serta upaya Zaid meyakinkan ‘Umar bahwa ada tambahan (و) yang kemudian didukung argumentasi Ubay bahwa hal yang sama juga terdapat di tiga tempat dalam Al-Quran, membuktikan bahwa juklak itu dilaksanakan dengan amat teliti.

Pengecualian akhir surat at-Tawbah dari kaedah tersebut disebabkan catatannya ditemukan hanya pada Abi Khuzaimah al-Anshary didasarkan kemutawatiran hafalannya sehingga menempati dua orang saksi bahwa ayat tersebut ditulis dihadapan Rasulullah. Hal ini diperkuat penegasan al-Zarkasyi dalam “Al-Burhan” “Adapun perkataan Zaid: “saya tidak menemukannya kecuali pada Abi Khuzaimah”, tidak berarti penetapan Al-Quran dengan khabar ahad karena Zaid dan sahabat lain menghafal ayat tersebut dan pencariannya kepada sahabat bertujuan untuk menampakkannya bukan sebagai pengetahuan baru.”

Para ulama mencatat beberapa spesifikasi yang terdapat dalam kompilasi Abu Bakar diantaranya:
a) Naskah tersebut hanya memuat ayat-ayat yang tidak dinaskh bacaannya dan membuang unsur-unsur asing selain Al-Quran.
b) Pengumpulan yang dilakukan oleh Abu Bakar tidak menerima kecuali yang disepakati sebagai Al-Quran melalui jalur mutawatir.
c) Kompilasi tersebut masih ditulis dengan “Ahruf Sab’ah”.
d) Ayat-ayatnya tersusun rapi seperti yang ada sekarang, sedangkan surat-suratnya “berdiri sendiri” (dalam suhuf). Kemudian suhuf-suhuf tersebut dikumpulkan dan diikat menjadi satu.

Perlu diingat bahwa kompilasi Al-Quran dengan tingkat ketelitiannya yang tinggi beserta cakupannya terhadap spesifikasi di atas, hanya suhuf Abu Bakar sajalah yang memenuhi kriteria tersebut. Karena mushaf-mushaf yang ditulis sebagian sahabat, dikabarkan mencantumkan ayat yang telah dihapus dan yang melalui kategori ahad. Sebagian yang lain mencantumkan sisipan penafsiran kosa kata ayat tertentu dan beberapa doa yang ma’tsur. Oleh sebab itu naskah Al-Quran yang dimiliki Abu Bakar merupakan naskah otentik dan memiliki legitimasi yang kuat.# (Fahmi Salim Zubair, MA)

bersambung : bagian 5

Facebook Comments