AdalahPay

SatuNusaNews – lanjutan bagian 2
Ibn Al-Jazariy seorang pakar qiraat terkemuka menegaskan: “Pengandalan atas hafalan di luar kepala dalam proses transmisi Al-Quran dan bukan dengan tulisan naskah adalah anugerah utama yang diberikan oleh Allah kepada umat islam”. Hal itu berdasarkan hadits yang diriwayatkan Imam Muslim:

أن النبي صلي الله عليه وسلم قال: ان ربي قال لي: قم في قريش فأنذرهم فقلت له اي رب اذا يثلعوا رأسي حتى يدعوه خبزه فقال اني مبتليك ومبتل بك ومنزل عليك كتابا لا يغسله الماء تقرءه
نائما ويقظان ….. (الحديث

Hadist di atas menyiratkan bahwa Al-Quran dibaca dari lubuk hati (hafalan) dalam setiap kondisi sehingga pembacanya tidak perlu lagi melihat lembaran yang ditulis dengan tinta pena yang mudah sirna apabila tercuci air.

Adapun Jam’ Al-Quran yang berarti penulisan dan pengumpulan Al-Quran dalam mushaf resmi telah mengambil tiga bentuk dalam tiga preiode awal islam, sebagaimana yang akan kita uraikan sebagai berikut.

A. Kompilasi Al-Quran pada Masa Rasulullah
Telah dimaklumi bahwa Nabi SAW menugaskan para sahabat yang dikenal pandai menulis untuk mencatat wahyu. Di antaranya: Abu Bakr ra, ‘‘Umar ibn al-Khattab ra, ‘Ali ibn Abi Thalib kw, ‘Utsman ibn ‘Affan ra, Mu’awiyah ibn Abi Sufyan ra, Zaid ibn Tsabit ra, Ubay ibn Ka’b ra, Khalid ibn Walid ra, Tsabit ibn Qais ra. Mereka adalah sahabat yang masyhur sebagai penulis wahyu.

Imam al-Hakim menceritakan dari Zaid ibn Tsabit bahwa ia berkata: “Kami mencatat Al-Quran dihadapan Rasul SAW diatas lembaran kulit atau kertas”. Bahkan Regis Blachere dalam‘Introduction au Coran” menghitung tak kurang dari empat puluh sahabat penulis wahyu melalui perbandingan hitungan Frederich Schwally dan Paul Cassanova berdasarkan laporan yang dikemukakan Ibn Sa’d, al-Thabari, al-Nawawi, Ibn Hisyam dan lain-lain.

Kompilasi Al-Quran pada masa Rasul dimulai sejak turunnya wahyu dan berakhir sampai wafatnya Nabi SAW. Al-Quran pada waktu itu masih berupa kepingan naskah yang berserakan dan masih belum terkumpul dalam satu mushaf dikarenakan Nabi SAW masih menunggu wahyu yang kemungkinan berisi hukum yang menghapus hukum yang turun terdahulu. Al-Zarkasyi berkata: “Alasan Al-Quran tidak ditulis dalam mushaf pada masa Nabi SAW agar tidak terjadi perubahan pada setiap saat. Oleh sebab itu penulisannya (dalam mushaf) terlambat sampai tuntas turunnya wahyu dengan kewafatan beliau”.

Adapun informasi yang mengatakan bahwa Zaid pernah berkata bahwa Al-Quran belum dikumpulkan pada suatu apapun ketika Rasulullah wafat, tidak berarti Al-Quran tidak pernah tercatat pada masa Nabi akan tetapi penafian tersebut tertuju kepada sesuatu yang bagian-bagiannya belum tersusun rapi seperti kompilasi Abu Bakar dan Utsman ra. Lagi pula sanad riwayat tersebut lemah. Karena Ibrahim ibn Basyar, salah seorang perawi didhloifkan oleh para kritikus hadis. Sedangkan ‘Ubaid, perawi lain bersifat majhul (biografinya tidak dikenal). Spesifikasi lain dari kompilasi Al-Quran pada masa Rasulullah adalah cakupannya terhadap “Ahruf Sab’ah” dan ayat beserta suratnya terpisah-pisah dalam kepingan pelepah kurma, kulit, tulang dan lain-lain.

B. Kompilasi Al-Quran Masa Abu Bakar ra
Berita wafatnya Nabi SAW menimbulkan goncangan hebat dalam komunitas muslim yang baru tumbuh. Belum lagi kaum muslim keluar dari hiruk-pikuk proses pengangkatan suksesor dan penguburan jenazah Nabi, mereka dikejutkan dengan berita pembangkangan di pelosok kawasan Arab dan gerakan apostasi (riddah) yang terjadi di beberapa daerah kekuasaan islam. Semua itu menghalangi kaum muslim untuk memikirkan masa depan Al-Quran. Karena selain para sahabat sibuk dengan perang yang berkecamuk, mereka tidak merasakan terjadinya ‘sesuatu’ akan masa depan Al-Quran.

Menurut mereka toh Al-Quran telah ditulis dan dipelihara di rumah istri-istri Nabi dan lagi pula para penghafal Al-Quran masih banyak. Akan tetapi terjadi sesuatu yang tak terduga sama sekali. Dalam perang Yamamah, telah gugur sekitar seribu orang syahid, termasuk di antaranya sekitar empat ratus lima puluh sahabat menurut hitungan at Thabari yang membuat ‘‘Umar risau terhadap Al-Quran. Imam al-Bukhari menginformasikan dengan sanadnya dari Zaid ibn Tsabit berkata:

“Abu Bakar mengutusku dan mengabarkan bahwasannya ‘Umar datang kepadaku dan berkata: perang yamamah telah banyak menewaskan para penghafal Al-Quran dan aku khawatir peperangan lain juga turut menewaskan para qurro didaerah-daerah sehinga banyak bagian dari Al-Quran yang akan hilang. Oleh karena itu saya berpendapat sebaiknya anda memerintahkan untuk mengumpulkan Al-Quran. Saya balik bertanya kepada ‘Umar; bagaimana mungkin saya mengerjakan sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah, ‘Umar menjawab: demi Allah, itu adalah ide yang baik dan ia terus berusaha meyakinkan saya sehingga Allah melapangkan jalan untuk menerima ide itu. Zaid berkata: Abu Bakar berkata: ”Anda adalah anak muda yang cerdas dan kami mempercayaimu, lagi pula dahulu kamu turut mencatat wahyu pada masa Rasul. Maka cari dan kumpulkanlah Al-Quran; (Zaid berkomentar) demi Allah sekiranya mereka menyuruhku untuk memindahkan sebuah gunung, tidaklah lebih berat dari pada perintah mengumpulkan Al-Quran. Aku (Zaid) bretanya: bagaimana mungkin kalian mengerjakan sesuatu yang tidak penah dilakukan Rasul. Beliau menjawab: “Demi Allah, ini adalah ide baik, dan Abu Bakar terus meyakinkan saya sehingga Allah melapangkan dada saya seperti yang dialami Abu Bakar dan ‘Umar.# (Fahmi Salim Zubair, MA)

bersambung : bagian 4

Facebook Comments