AdalahPay

SatuNusaNews – Rombongan Forum Indonesia Peduli Syam (FIPS) yang sempat diturunkan paksa dari pesawat saat menuju Hatay Suriah dalam rangka mengantar bantuan kemanusiaan dan kemudian ditahan kepolisian Turki disinyalir korban jebakan intelejen tingkat tinggi.

Dalam acara Apakabar Indonesia Pagi yang tayang di TvOne Jumat (05/06) pagi, Mustofa B. Nahrawardaya menceritakan kronologis penangkapan yang terkesan adanya jebakan aksi terorisme.

Mustofa Nahra selama ini dikenal kritis terhadap penanganan aksi terorisme oleh Densus 88 yang dianggapnya tidak manusiawi dan melabrak hukum. Dalam banyak kesempatan, karena kritikan tajamnya, Mustofa kerap dianggap pro terorisme, sebuah tuduhan yang mengada-ada. Akibatnya, Koordinator Indonesian Crime Analyst Forum (ICAF) dan salah satu pengurus PP Muhammadiyah ini kerap berbenturan dengan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).

Dalam wawancara tersebut, Mustofa memaparkan fakta yang menurutnya terlalu naif jika disebut kebetulan. Saat keberangkatan, rombongan mengalami 3 kali perubahan jadwal penerbangan. “Sepertinya ini cara intelejen untuk menjadikan kami satu flight dengan orang yang dicurigai ingin bergabung dengan ISIS,” terang Mustofa.

Akibatnya, pesawat menuju Hatay Suriah gagal terbang. Ini menunjukkan bahwa skenario yang dibangun benar-benar serius karena lebih 100 orang penumpang di pesawat Boeing tersebut gagal berangkat.

Temuan lain adalah rekaman yang masih tersisa di rombongan FIPS dimana ada orang yang saling berbicara dalam bahasa Turki dan terdengar kata Jakarta. Mustofa lalu mencoba menterjemahkan percakapan tersebut setelah bebas melalui seorang rekan dan kalimat yang diucapkan kurang lebih “Kami mendapatkan informasi ini dari Jakarta”.

Kejanggalan lain adalah saat kepulangan ke Indonesia. Ternyata rombongan FIPS satu flight dengan 12 orang pasukan anti teror Densus 88 yang membawa seorang WNI yang dideportasi karena dicurigai ingin bergabung dengan ISIS.

“Bagaimana mungkin saat ke Hatay Suriah kita bisa satu flight dengan orang Suriah itu (yang dianggap ingin bergabung dengan ISIS) dan pulangnya juga kita satu flight dengan Densus 88 membawa tersangka terorisme,” lanjutnya. “Dan informasi yang saya dapat, penerbangan ini sudah diatur sejak satu bulan yang lalu,” lanjut Mustofa.

Namun Mustofa tidak berani secara vulgar mengatakan bahwa ini adalah sebuah jebakan intelejen. “Kita hanya menganalisa saja, saya hubung-hubungkan saja. Bagaimana bisa seperti itu. Ini kebetulan, atau memang ada yang mengatur?” tanyanya mengajak kita untuk berfikir apa yang telah terjadi.

Jika memang seperti ini, rasanya wajar jika kita berfikir adanya jebakan tingkat tinggi. Dan setelah jebakan itu berjalan, ada pihak yang kemudian hadir untuk menyelamatkan. Kalau memang seperti ini, rasa-rasanya modus pencitraan sudah naik ke level yang jauh lebih tinggi. #

Facebook Comments