AdalahPay

SatuNusaNewsKunci utama dalam menjemput rezeki yang halal adalah ikhtiar dan tawakal. Sikap tawakal tidak identik dengan pasrah, apa adanya, kumaha engke, atau malas. Tawakal menurut bahasa berasal dari kata ‘wakala’ artinya menyerahkan ”sesuatu.” Itulah sebabnya, Yusuf Qordhowi mengemukakan, tawakal adalah cabang iman kepada Allah SWT., yang menyerukan kepada penyerahan diri kepada Allah SWT., semata tanpa mengabaikan sebab.

Seiring dengan ungkapan itu, Abu Turab an-Nakhsyaby menjelaskan, tawakal adalah gerakan untuk ubudiyah, menggantungkan hati kepada penanganan Allah, ketenangan kepada qodho dan qodar Allah SWT., kedamaian menerima kecukupan dari Allah, bersyukur jika diberi dan bersabar jika ditahan.

Tawakal adalah pancaran dari sikap optimis yang dibuktikan dengan kekuatan do’a dan kekuatan ikhtiar secara optimal. Dengan kata lain, tawakal adalah usaha yang dilakukan sepenuh hati dan dibuktikan dengan kesungguhan secara fisik.

Sikap tawakal seorang muslim bukan pada hasil tetapi pada proses. Ketika seekor kuda diikat atau ditambatkan pada sebatang pohon agar tidak lepas adalah sebuah proses tawakal. Toh, nanti ternyata setelah kuda diikat dengan kuat tetapi tetap bisa kabur itu adalah semata-mata kehendak Allah SWT. Demikian makna tawakal yang diajarkan panutan kita, Rasulullah Saw.

Konsep tawakal yang diajarkan Rasulullah mempunyai keutamaan yang sangat erat dengan pola hidup seorang muslim di antaranya,
Pertama, sikap tawakal sangat disukai Allah. Hal itu sebagaimana tertulis dalam al-Quran surat al-Imron ayat 159, “Karena itu maafkanlah mereka, mohonkan ampun bagi mereka dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kalian telah membulatkan tekad, maka tawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.”
Kedua, dengan sikap tawakal Allah akan mencukupkan keperluan kita. Hal itu sesuai dengan janji Allah SWT dalam surat At-Tolaq ayat 3.
Ketiga, sikap tawakal adalah bukti iman yang benar. Firman Allah, “Dan hanya kepada Allah hendaknya kalian bertawakal, jika kalian benar-benar orang yang beriman.”
Keempat, dengan tawakal Allah akan memudahkan urusan rezeki kita dengan mudah. Rasulullah bersabda, “Sekiranya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya Ia akan memberi kalian rezeki, sebagaimana Ia memberi rezeki kepada burung yang pergi dalam keadaan kosong perutnya dan kembali lagi dalam keadaan kenyang.”(HR. Tirmidzi).

Beranjak dari keutamaan tawakal, maka dapat dipastikan dalam setiap gerak langkah saat menjemput rezeki akan selalu lahir rasa optimis tinggi. Kondisi ini sejalan dengan hakikat kedatangan rezeki, yakni dari mana mendapat rezeki dan bagaimana membelanjakan rezeki itu. Soal banyak sedikit rezeki yang diperoleh bukan masalah. Sebab posisi kita dalam kaitan rezeki hanya sebagai pemegang amanah bukan pemilik mutlak.

Penutup

Puasa Ramadhan harus membangun karakter baru. Karakter yg menyatukan kekuatan moral dan kekuatan profesional. Puasa menghadirkan sosok yg selalu merasa dilihat oleh Penciptanya yg berakibat pada semakin kokohnya moral seseorang, sehingga jauh dari penyimpangan. Pada saat yg sama dia juga terpanggil untuk memiliki kemampuan mengolah sumber daya alam dengan kemampuan profesionalnya untuk menghadirkan kesejahtraan.

Moral yang kuat dan kesejahteraan ini yang menjadi ciri kecemerlangan peradaban Islam.
Selain itu Puasa Ramadhan adalah sumber kekuatan. Rasa lapar pada titik tertentu akan berubah jadi kekuatan. Oleh karenanya banyak prestasi besar hadir di pentas sejarah terjadi pada bulan Ramadhan. Mulai dari kemenangan perang Badar, Futuh Makkah hingga proklamsi kemerdekaan RI terjadi di bulan Ramadhan.

Semoga kekuatan spirit perjuangan Ramadhan menjadikan kita semakin tangguh dan ulet menjalani kehidupan, amanah dan professional dalam mengemban tugas pekerjaan, tawakkal dan optimis menatap masa depan, karena kita berkeyakinan bahwa rejeki dari Allah untuk kita sudah tersedia dan tak akan tertukar sedikitpun, dimanapun dan kapanpun kita bekerja. Selamat berbuka puasa. Semoga Allah melindungi, membimbing, dan memberkahi semua ikhtiar kita. Amiin. # (KH. Fahmi Salim, Lc. MA.)

Facebook Comments