AdalahPay

SatuNusaNews – Selanjutnya perhatikan rute Bulan selama satu bulan Sidereal. Rutenya bukan berupa lingkaran sepeti yang mungkin anda bayangkan, melainkan berbentuk kurva yang panjangnya L = v * T.

Edar bulan

Ada dua tipe kecepatan bulan (v), yang pertama adalah kecepatan relatif terhadap bumi yang bisa dihitung dengan rumus, sebagai berikut: ve = 2 * π * R / T
dimana: R = Jari-jari revolusi bulan = 384.264 km
T = periode revolusi bulan = 655,71986 jam
Sehingga ve = 2 * 3,14162 * 384.264 km / 655,71986 jam = 3.682,07 km/jam.

Dan yang kedua adalah kecepatan relatif terhadap bintang atau alam semesta, inilah yang akan diperlukan. Einstein mengusulkan bahwa kecepatan jenis kedua ini dihitung dengan mengalikan yang pertama dengan cosinus α, sehingga v = ve * Cos α, dimana α adalah sudut yang dibentuk oleh revolusi bumi selama satu bulan Sidereal sebesar 26,92848º.

Dengan demikian dari persamaan di atas, maka akan didapat nilai kecepatan cahaya atau konstanta C yang merupakan kecepatan tercepat di jagat raya ini sebesar:
C * t = 12.000 * L
C * t = 12.000 * v * T
C * t = 12.000 * (ve * Cos α) * T
C = 12.000 * ve * Cos α * T / t
C = 12.000 * 3.682,07 Km/jam * 0,89157 * 655,71986 jam / 86.164,0906 detik
C = 299.792,5 km/detik

Hasil hitungan yang diperoleh oleh Dr. Mansour Hassab-Elnaby ternyata sangat mirip dengan hasil hitungan lembaga lain yang menggunakan peralatan sangat canggih. Berikut hasilnya:
Hasil hitung Dr. Mansour Hassab-Elnaby C = 299.792,5 km/detik.
Hasil hitung US National Bureau of Standards C = 299.792,4575 + 0,0011 km/detik.
Hasil hitung The British National Physical Laboratory C = 299.792,4590 + 0,0008 km/detik.
Hasil hitung General Conf on Measures (Konferensi ke-17 tentang Penetapan Ukuran dan Berat Standar) C = 299.792,458 km/detik.

Terlepas dari benar tidaknya interpretasi yang dilakukan oleh Dr. Mansour Hassab-Elnaby, usaha demikian menunjukan betapa kitab suci Al Quran memiliki tantangan bagi para ilmuwan untuk lebih kreatif dan tajam dalam mengungkap fenomena-fenomena alam. Perhitungan ini membuktikan bahwa keakuratan dan kosistensi nilai kecepatan cahaya atau konstanta C hasil pengukuran selama ini dan memberikan bukti tambahan bahwa Al Quranul Karim sebagai wahyu yang benar-benar datang dari Sang Maha Pencipta alam semesta.#
Referensi:

http://www.alquran-indonesia.com/web/

Elnaby, M.H., 1990, A New Astronomical Quranic Method for The Determination of The Greatest Speed C, http://www.islamicity.org/Science/960703A.HTM

Wildaiman, Alumni matematika ITB

Facebook Comments