AdalahPay

SatuNusaNews – Mengetahui besaran kecepatan cahaya adalah sesuatu yang sangat menarik bagi manusia. Sifat unik cahaya yang menurut Einstein adalah satu-satunya komponen alam yang tidak pernah berubah, membuat sebagian ilmuwan terobsesi untuk menghitung sendiri besaran kecepatan cahaya dari berbagai informasi.

Seorang ilmuwan matematika dan fisika dari Mesir, Dr. Mansour Hassab-Elnaby merasa adanya tanda-tanda dari kitab suci yang diturunkan 14 abad silam, Al Quran, yang membuat ia tertarik untuk menghitung kecepatan cahaya. Dalam bukunya yang berjudul A New Astronomical Quranic Method for The Determination of The Greatest Speed C, Mansour Hassab-Elnaby menguraikan secara jelas dan sistematis tentang cara menghitung kecepatan cahaya atau konstanta C berdasarkan redaksi ayat-ayat Al Quran.

Ada beberapa ayat Al Quran yang menjadi rujukan Dr. Mansour Hassab-Elnaby. Pertama, “Dialah (Allah) yang menciptakan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu)” Q.S. Yunus (10) ayat 5. Kedua, “Dan Dialah (Allah) yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya” Q.S. Al Anbiyaa (21) ayat 33. Ketiga, “Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu” Q.S. As Sajdah (32) ayat 5.

Berdasarkan ayat-ayat tersebut di atas, tertutama ayat yang ketiga (Q.S. 32:5) dapat disimpulkan bahwa jarak yang dicapai sang urusan satu hari sama dengan jarak yang ditempuh Bulan selama 1.000 tahun atau 12.000 bulan dan sang urusan inilah yang diduga sebagai sesuatu “yang berkecepatan cahaya”.
Dr. Mansour menggunakan rumus yang sederhana tentang kecepatan dan membuat persamaan konstanta C, sebagai berikut:
C * t = 12.000 * L
dimana: C = kecepatan sang urusan
t = waktu selama satu hari
L = panjang rute edar bulan selama satu bulan

Dalam menghitung gerakan benda langit, digunakan dua sistem yaitu Sinodik dan Sidereal. Sistem Sinodik didasarkan pada gerakan semu Bulan dan Matahari dilihat dari Bumi. Sistem ini menjadi dasar perhitungan kalender Masehi dimana satu bulan adalah selama 29,53509 hari.

Sistem Sidereal didasarkan pada gerakan relatif Bulan dan Matahari dilihat dari bintang jauh (pusat semesta). Sistem ini menjadi dasar perhitungan kalender Islam (Hijriah) dimana waktu selama satu hari adalah 23 jam 56 menit 4,0906 detik sama dengan 86.164,0906 detik. Sehingga dengan demikian satu bulan menjadi 27,321661 hari.

Meski berbagai sistem kalender telah diuji, namun “Sistem kalender bulan Sidereal” menghasilkan nilai C yang persis sama dengan nilai C yang sudah diketahui melalui pengukuran. Karena itu ahli-ahli astronomi selalu mendasarkan perhitungan gerak benda langit (mechanical of Celestial) kepada sistem Sidereal karena dianggap lebih eksak dibandingkan sistem Sinodik yang mengandalkan penampakan semu dari Bumi.#

Facebook Comments