AdalahPay

SatuNusaNews –  Warga Aceh mengaku tidak peduli apabila pemerintah melarang menampung masalah pengungsi. Karena  sebelumnya Panglima TNI Jenderal Moeldoko mengatakan mereka dilarang membawa masuk para pengungsi masuk ke wilayah Indonesia karena akan menimbulkan masalah sosial.

Namun larangan tersebut tidak dipedulikan oleh warga Aceh, dan menurut warga Aceh, sikap ini tidak lain karena sikap yang seharusnya ditunjukkan manusia terhadap manusia lainnya yang kesusahan.

“Aceh pernah merasakan ditolong orang saat tsunami lalu. Kini giliran kami yang memberi bantuan. Apalagi mereka orang Islam. Dalam Islam binatang saja dibantu, apalagi manusia,” kata nelayan, Husein, 48, yang turut serta dalam operasi evakuasi.

“Masalah aturan pemerintah, itu urusan pemerintah. Kami hanya tahu menolong orang itu wajib. Ini wilayah Serambi Mekah, dimana budaya dan agamanya masih kuat. Allah yang akan membalas kami,” ujar warga, Muhammad, 42.

Dini hari tadi, para nelayan di desa Simpang Lhee, Julok, Aceh Timur, menyelamatkan sekitra 380 pengungsi Rohingya dan Bangladesh di tengah lautan.

“Kami menjumpai mereka sekitar jam 1 di laut saat kami tengah mencari ikan, mereka lemah semua tidak ada daya. Makanan mereka sudah habis semua, mesin kapal mati, hanya hanyut mengikuti arus laut,” kata Misran.

Sesampainya di darat, para nelayan langsung kembali ke laut dengan lebih banyak lagi kapal untuk menjemput pengungsi sisanya.

Kabar pendaratan Rohingya tersebar di berbagai desa sekitar melalui pengeras suara di meunasah atau mushola. Tergerak rasa kemanusiaan, warga berdatangan membawa makanan dan pakaian bekas. Warga desa tanpa pikir panjang mendirikan dapur umum untuk makan para pengungsi yang sudah tiga bulan tidak kenal lauk pauk.

Camat Julok, Zainuddin, mengatakan bahwa tindakan masyarakat Aceh ini dimotivasi oleh rasa kemanusiaan dan nilai-nilai keagamaan yang kuat di tengah warga.

“Tidak hanya di Binjai, kecamatan lain juga turun tangan membantu,” kata Zainuddin.#

Facebook Comments