HARIANJOGJA/GIGIH M. HANAFI SABDA RAJA YOGYAKARTA-- Raja Sultan Hamengkubuwono X saat membaca Sabda Tama atau pernyataan Raja di dampingi GKR Hemas dan Adipati Paku Alam IX di Bangsal Kencono, Keraton Ngayogyokarto Hadiningrat, Kamis (10/5). Sabda Tama adalah sesuatu yang sakral dan tidak sembarangan diucapkan. Sepanjang sejarahnya menjadi Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat Sultan Hamengku Buwono X baru pertama kali menyampaikan Sabda Tama.

SatuNusaNews –¬†Sri Sultan Hamengku Buwono X, Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat¬†menjelaskan pergantian gelar yang disandangnya, yang sebelumnya tercakup dalam isi sabda raja yang dikeluarkan pada 30 April 2015.

Sri Sultan yang mengenakan kemeja batik duduk bersila didampingi istri, GKR Hemas, menjelaskan ihwal pergantian gelar yang disandangnya di hadapan masyarakat dari berbagai daerah di Dalem Wironegaran, yang merupakan kediaman putri pertamanya, GKR Mangkubumi, Jumat (08/05) sore.

Sultan mengatakan, sejak sabda raja tersebut dikeluarkan, gelar yang disandangnya berubah menjadi “Ngarsa Dalem Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Sri Sultan Hamengku Bawono Ingkang Jumeneng Kasepuluh Suryaning Mataram Senapati Ing Ngalaga Langgeng Ing Bawono Langgeng, Langgeng Ing Toto Panoto Gomo”.

Gelar itu mengubah gelar sebelumnya yakni “Ngarsa Dalem Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Kanjeng Sultan Hamengku Buwono Senapati Ing Ngalaga Ngabdurrakhman Sayidin Panatagama Khalifatullah Ingkang Jumeneng Kaping Sedasa Ing Ngayogyakarta Hadiningrat“.

Menurut Sultan, pergantian nama itu merupakan “dawuh” atau perintah dari Allah Swt melalui leluluhurnya. Dengan demikian tidak bisa dibantah, dan hanya bisa menjalankan saja.

“Dawuh itu mendadak. Kewenangan Gusti Allah dan tidak diperbolehkan dibantah,” kata dia.

Adapun gelar “Buwono” menjadi “Bawono“, dia menjelaskan, “Buwono” memiliki arti jagad kecil sementara “Bawono” memiliki arti jagad besar. “Kalau disebut Buwono daerah, ya Bawono berarti nasional. Kalau Buwono disebut nasional, Bawono berarti internasional,” kata dia.

Selanjutnya, perubahan “kaping sedoso” menjadi “kasepuluh” adalah untuk menunjukkan urutan. Sebab “kaping” memiliki arti hitungan tambahan, bukan “lir gumanti” (urutan).”Seperti “kapisan” (pertama), “kapindo” (kedua), “katelu” (ketiga) dan seterusnya. Jadi tidak bisa “kaping sedoso” karena dasarnya “lir gumanti”, kata dia.

Sementara itu, tambahan “Suryaning Mataram” menunjukkan berakhirnya perjanjian Ki Ageng Pemanahan dengan Ki Ageng Giring yang merupakan periode Mataram lama dari zaman Kerajaan Singasari sampai Kerajaan Pajang. Sementara mulai zaman Kerajaan Mataram dengan Raja Panembahan Senapati hingga Kerajaan Ngayogyakarta saat ini merupakan Mataram baru.

Adapun penggantian “Kalifatullah Sayidin” diganti “Langgeng Ing Toto Panoto Gomo” adalah menunjukkan berlanjutnya tatanan agama Allah di jagad.” Hanya itu yang bisa saya artikan, kalau lebih dari itu nanti jadi ngarang sendiri dan belum tentu benar. Saya hanya sekadar menyampaikan “dawuh”,” kata dia.

Demikian dikutip dari laman kantor berita Antara. #

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.