SatuNusaNews – Angkatan Laut Turki mengirimkan kapal perangnya untuk melakukan upaya pencarian pengungsi Muslim Rohingya yang terkatung-katung di lautan. Sikap ini berbanding terbalik dengan sikap TNI yang tidak menunjukkan rasa kemanusiaannya atas nyawa tetangganya.

Menurut perkiraan, masih ada banyak kapal yang membawa pengungsi Muslim Rohingya yang terdampar di perairan antara Thailand dan Malaysia. Sementara itu, Tentara Nasional Indonesia malah melarang nelayan Indonesia membantu dan membawa pengungsi yang terancam jiwanya ke daratan Indonesia.

Sebelumnya Panglima TNI Jenderal Moeldoko mengucapkan kalimat yang tak layak sebagai seorang pimpinan tentara negara besar. “Urus masyarakat Indonesia sendiri saja tidak mudah, jangan lagi dibebani persoalan (pengungsi Muslim Rohingya -red) ini,” tegasnya.

Sontak kalimat tersebut menimbulkan kegusaran rakyat, khususnya Rakyat Aceh yang sering menemukan kapal pengungsi terkatung-katung di lautan dalam kondisi memprihatinkan. Atas dasar kemanusiaan dan rasa persaudaraan, rakyat Aceh malah menarik mereka ke daratan dan memperlakukan mereka sebagai tamu.

Aksi simpatik rakyat Aceh ini mendapat apresiasi yang tinggi dari warga dunia. Berbagai media internasional memuji kerendahan hati dan tingginya rasa kemanusiaan yang dimiliki rakyat Aceh, sementara menyayangkan sikap pemerintah Indonesia yang seolah tak peduli ada ribuan nyawa yang meregang di lautan kita.

 

Angkatan Laut Turki sedang melakukan upaya untuk mencapai kapal etnis Muslim Rohingya yang terdampar di lepas pantai Thailand dan Malaysia, demikian disampaikan Perdana Menteri Turki Ahmet Davutoglu, demikian dikutip Turki Hurriyet Daily News Selasa (19/05).

Dalam pertemuan di Istana Cankaya pada Selasa kemarin, Perdana Menteri Ahmed Davutoglu mengatakan Turki berusaha melakukan yang terbaik untuk membantu Muslim Rohingya yang saat ini berada di lautan dengan berkoordinasi dengan Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM), dengan bantuan kapal Angkatan Bersenjata Turki yang sudah berlayar di wilayah tersebut.

Diperkirakan, tujuh sampai delapan ribu Rohingya dan imigran Bangladesh saat ini berada di perairan Selat Malaka. Tujuan mereka adalah Thailand dan Malaysia namun mendapat penolakan dari negara itu.

Seperti diketahui, etnis Muslim Rohingya terdampar di Aceh sejak 10 Mei 2015 lalu hingga menjadi perhatian berbagai kalangan.

Muslim Rohingya selama berpuluh-puluh tahun mendapat perlakuan diskriminasi dari Myanmar termasuk pembatasan melahirkan dan menikah. Serangan terhadap minoritas Muslim ini selama tiga tahun terakhir telah mengakibatkan terjadinya eksodus besar-besaran sejak Perang Vietnam.

PBB memperkirakan bahwa 120.000 telah meninggalkan negara dengan perahu dalam tiga tahun terakhir, mereka melarikan diri dengan kondisi putus asa dan ancaman kekerasan sewenang-wenang oleh umat Buddha Rakhine dan pasukan keamanan.

Sebelumnya, pada bulan Agustus 2012, saat menjabat sebagai Menteri Luar Negeri Turki, Ahmet Davutoglu bersama Emine Erdogan (Istri Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan) pernah mengunjungi Muslim Rohingya di kamp pengungsian Banduba, negara bagian Arakan (Rakhine), Myanmar.

Ahmet Davutoglu bersama Emine Erdogan menyerahkan sejumlah bantuan pada warga,  yang dinilai bantuan dari negara asing pertama yang sampai kepada etnis Rohingya, lansir Today’s Zaman. #

Keterangan photo: Perdana Menteri Turki Ahmet Davutoglu memeluk warga Muslim Rohingya. Sementara Emine Erdogan (Istri Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan) terlihat menangis. Sumber photo: Today’s Zaman.

 

Facebook Comments