SatuNusaNews – Ada yang janggal menurut kader Muhammadiyah, Mustofa B Nahrawardaya yang mempertanyakan keberadaan pasukan Densus 88 yang tidak merespon kelompok teroris-separatis Organisasi Papua Merdeka (OPM) yang menantang perang secara terbuka terhadap TNI dan Polri serta masyarakat non-Papua.

Menurut Mustofa, seharusnya pasukan Densus yang konon memang bertugas untuk memberantas gerakan-gerakan radikal di Indonesia, harus dengan cepat dan tanggap merespon hal ini.

“Inilah fenomena janggal dalam program pemberantasan terorisme. Kelompok yang secara terbuka menantang aparat untuk berperang untuk kemerdekaan, seolah tidak dianggap sebagai ancaman teror. Padahal yang diteror jelas negara. Dalam hal ini TNI/Polri.

Mereka punya kelompok, punya jaringan. Punya senjata. Ini adalah gerakan yang paling radikal untuk kesatuan NKRI”, kata Mustofa kepada tim SatuNusaNews (23/5).

Peneliti terorisme ini menjelaskan, OPM tentu berbeda dengan teroris atau terduga yang selama ini keberadaannya dan kekuatannya tidak pernah terpublikasi secara transparan ke Publik. “Rata-rata, kekuatan para terduga teroris, maupun rencana-rencana mereka, biasanya hanya diungkapkan oleh aparat. Sementara, ancaman separatis Papua, lebih riil dan dapat diketahui publik secara luas,” jelas Mustofa.

Seperti diketahui, OPM pimpinan Puron Wenda dan Enden Wanimbo baru-baru ini menantang perang secara terbuka terhadap TNI dan Polri serta masyarakat non-Papua. Kelompok teroris yang bermarkas di Lany Jaya, Papua ini menegaskan bahwa perjuangan Papua Merdeka tetap menjadi harga mati. Mereka juga menolak segala bentuk dialog. #

Facebook Comments