SatuNusaNews – Teater merupakan refleksi dari kondisi sosial masyarakat yang tumbuh pada sebuah Negara yang terus mengalami perubahan demokrasi yang biasanya bisa memberikan perubahan kepada pemimpin dalam membangun kebijakannya. Demikian salah orasi budaya Bupati Purwakarta, H. Dedi Mulyadi, SH, dalam penutupan teater mahasiswa nasional 2015, Minggu malam (11/5) Gedung Kebudayaan UPI Bandung.

Dedi juga menegaskan bahwa pertunjukan teater jangan menjadi pertunjukan eksklusif tapi harus bisa dipertontonkan kepada masyarakat, ditengah kondisi masyarakat yang berubah serta ditambah adanya tayangan ditelevisi yang hanya mengejar rating pada masyarakat.

“Teater yang dipertunjukan hendaknya tidak bersikap ekslusif dengan penonton tertentu, ditempat tertentu karena banyak masyarakat hari ini membutuhkan sentuhan seniman, sentuhan akademisi yang nyata. Sehingga alangkah baiknya setiap pertunjukan masyarakat umum harus bisa menikmatinya entah itu teater, entah itu musik maupun sastra. Mungkin bagi kaum menengah bisa menonton karena mempunyai uang yang cukup lalu bagaimana dengan masyarakat kecil yang memang butuh hiburan yang segar ditengah tayangan televise yang hanya mengejar rating, serta pertunjukan music yang hanya memperlihatkan erotisme dikampung-kampung,” ujarnya.

Selain itu Dedi pun memberikan motivasi bahwa terbangunnya sebuah bangsa karena masih adanya kebudayaan masyarakat yang terjaga, sehingga dirinya menegaskan bahwa tidak ada kebudayaan lokal maupun kebudayaan global, semuanya sama, baik kebudayaan bangsa Indonesia dan bangsa lainnya sama sejajar tidak ada perbedaan sama sekali.

“Kita jangan pernah berkata itu kebudayaan lokal, ini kebudayaan global. Saya tegaskan kebudayaan Indonesia sejajar dengan kebudayaan bangsa lainnya. Kita jangan hanya jadi subordinasi kebudayaan bangsa lainnya tapi kita harus bersikap bahwa budaya bangsa kita itu kuat dan sejajar dengan budaya bangsa lainnya,” tegasnya.

Sumber : Humas Purwakarta

Facebook Comments