SatuNusaNews – Praktisi pendidikan di Jawa Barat dalam waktu dekat akan menganugerahi Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi dengan gelar Doktor Honoris Causa dalam bidang Kepemimpinan Sunda. Pernyataan ini keluar langsung dari Rektor Universitas pasundan (Unpas) yang juga ketua Pengurus Besar Paguyuban Pasundan, Prof. Dr. H. Didi Turmudzi, M.Si.

Prof. Didi yang ditemui disela melantik pengurus Paguyuban Pasundan Kabupaten Purwakarta, Rabu 22 April 2015 di Bale Sawala Yudistira Purwakarta menegaskan keputusan lembaganya ini bukan tanpa alasan. Pihaknya telah membentuk tim terdiri dari tiga guru besar di Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Padjadjaran (Unpad) dan Unpas sendiri untuk melakukan penelitian ke berbagai daerah di tatar Sunda terkait pembangunan, kemasyarakatan, dan etika kepemimpinan.

“Ternyata prestasi pembangunan Purwakarta berbeda dengan daerah lainnya. Jadi tiga guru besar ini menindaklanjutinya dengan mengumpulkan dan menyusun karya-karya pembangunan, pikiran-pikiran, dan pidato beliau dalam sebuah disertasi sebagai prasyarat mendapatkan gelar doktor,” jelas Prof. Didi.

Secara pribadi Prof. Didi menilai sosok Dedi mampu menterjemahkan falsafah Sunda dalam memimpin dan memasukannya dalam pembangunan di Purwakarta. Menurutnya selama ini, pembangunan kebanyakan berorientasi pada pemikiran budaya lain, padahal pemikiran Sunda jauh lebih awal dan maju.

“Contoh di Purwakarta, pembangunan bernuansa Sunda ini sangat rasional bukan hanya dari bahasa saja. Ini bisa dilihat dari pembangunan kesehatannya, pendidikan dengan berbagai program, Salahsatunya 7 Poe atikan Purwakarta istimewa, estetika, arsitektur dan sejenisnya. Ini kan tidak kalah menarik,” tambahnya.

Hingga saat ini, Unpas sendiri menurut Prof. Didi baru menganugerahi dua tokoh dengan gelar doktor honoris Causa. Satu Tjetje Hidayat Padmadinata di bidang ilmu politik dan dua, Dedi Mulyadi dibidang ilmu kepemimpinan Sunda.

Terkait rencana mendapatkan gelar doktor honoris ini, Dedi nampak tersenyum. Hanya saja menurut Dedi yang lebih penting bagi dirinya saat ini adalah bekerja dan bekerja.

“Urusan Doktor kan itu pa Prof. saja. Tugas saya sekarang bekerja, melak kembang, melak pare, ngingu domba ngurus keun arsitektur bangunan ngurus keun budak sakola,” jelas Dedi.

Lebih jauh Dedi menilai selama ini pembangunan yang ilmiah dan rasional itu selalu rujukannya dari orang lain. Padahal leluhur Sunda sudah menjelaskan falsafahnya dalam pembangunan adalah Ciri Sabumi Cara Sadesa Jawadah Tutung Biritna sa carana sa carana lain tepak sejen igel.

“Jadi membangun itu punya cara nya sendiri sendiri berdasar kulturnya. Ini kan luar biasa, rujukan falsafah Sunda seperti ini sudah seharusnya kalau menurut saya menjadi bahasanya akademik, universitas dan ilmiah,” tegasnya.

Sehingga hemat Dedi, membangun Indonesia tentu harus dengan pikiran orang Indonesia. Bukan pikiran dan budayanya orang lain. Selama ini menurut Dedi, pikiran orang pribumi selalu dianggap tertinggal dan kuno.

“Kalau pikiran orang lain dianggap hebat, ini kebiasaan kita. Makanya mindset ini perlu diubah dengan penguatan sistem keyakinan dan optimisme bahwa sunda jauh lebih hebat dan beradab,” pungkasnya.

Sumber : Humas Setda Purwakarta

Facebook Comments