AdalahPay

Ustad Syarif BarajaSatuNusaNews – Penggunaan langgam jawa saat pembacaan Kitab Suci Al Qur’an pada Peringatan Isra’ Mir’raj di Istana Negara lalu mengundang polemik berkepanjangan. Ustadz Syarif Ja’far Baraja pun memberi komentarnya atas kejadian konyol yang terjadi.

Melalui akun twitternya, @syarifbaraja, ia memberi tanggapan atas kejadian yang ia anggap menyalah tersebut. Dalam satu twitnya, Ustad Syarif Baraja menegaskan bahwa Al Qur’an adalah kalam Allah. Maka cara pembacaannya pun harus mengikuti cara pembacaan dimana kitab suci tersebut diturunkan. Al Qur’an bukanlah sastra Jawa sehingga tak perlu menggunakan langgam Jawa saat pembacaannya.

Rangkaian twitnya itu juga ditujukan kepada menteri Agama Lukman Saifuddin sebagai bentuk nasihat ulama kepada seorang pemimpin di negerinya.

Berikut adalah twit lengkap beliau:

1. Al Qur’an bukan karya sastra Jawa dan Nusantara. Al Qur’an adalah kalam Allah. @lukmansaifuddin

2. Al Qur’an tidak bisa dipisahkan dari Arab pak. Hanya ada satu Al Qur’an, yaitu yang berbahasa arab. @lukmansaifuddin

3. Nada langgam Jawa tidak bisa dilepaskan dari sastra Jawa, maka jangan paksakan kalam Allah agar menJawa. @lukmansaifuddin

4. Kalam Allah bertujuan untuk mengubah jiwa from zero to hero seperti para sahabat Nabi ﷺ. @lukmansaifuddin

5. Al Qur’an adalah kalam Allah pak, ucapan Allah yang disampaikan Jibril kepada Nabi ﷺ. Hati-hati pak. @lukmansaifuddin

6. Pidato Presiden harus dihargai, apalagi ucapan Allah Yang menciptakan matahari yg besarnya 1.3 juta kali bumi. @lukmansaifuddin

7. Ketika kita tidak menghargai Al Qur’an, artinya kita tidak menghargai ucapan Allah. Hati-hati pak @lukmansaifuddin

8. Jangan kita kecil hati ketika lahir di Indonesia dan terlahir tidak berdarah Arab. Al Qur’an kitab global.

9. Turunnya Al Qur’an dalam bahasa Arab adalah isyarat bahwa bahasa Arab adalah bahasa global. @lukmansaifuddin

10. Mengapa Allah memilih menggunakan bahasa Arab dalam Al Qur’an? Ini isyarat pak bahwa bahasa Arab adalah pilihan Allah.

11. Kita harus memposisikan kalam Allah lebih dari apa pun. Kalam Allah diatas seluruh budaya yang ada.

12. Budaya manusia yang harus mengikuti dan menghormati kalam Allah. Bukan sebaliknya.

13. Orang terlahir menjadi Arab atau yang lain, itu bukan pilihan manusia. Orang tidak menjadi hina karena terlahir dari suku tertentu.

14. Berharap semoga upacara bendera di kemenag disertai dengan nyanyian Indonesia Raya dengan langgam Jawa. @lukmansaifuddin

15. Permasalahannya ketika ucapan Allah disamakan dengan bentuk sastra dan budaya lainnya. Jelas beda.

16. Menjadi Jawa atau Arab tidak membuat kita semakin dekat kepada Allah. Yang membuat kita dekat kepadaNya adalah kalamNya.

17. Jangan kita memprotes Allah yang memilih Arab sebagai bahasa Al Qur’an. Mari kita tunduk total kepada Allah.

18. Apa tujuan mendengar bacaan Al Qur’an? Menambah iman? Atau sekedar memanjakan telinga seperti mendengar lagu daerah?

19. Bedakan antara membaca Al Qur’an dengan suara bagus, dan membaca Al Qur’an dengan nada seperti nyanyian.

20. Tujuan tadabbur Al Qur’an akan menjadi bias dan menjadi hanya sekedar hiburan. Ketika membaca Al Qur’an dengan langgam nyanyian. #

Facebook Comments