SatuNusaNews – Kartini dulu dan Kartini sekarang banyak perbedaan tapi semangatnya tetap sama. Dan sekarang wanita tidak lagi seperti pada jaman penjajahan dahulu, wanita sekarang dengan sangat mudah untuk mengembangkan bakat dan potensi yang dimiliki demi kemajuannya dan juga kemajuan bersama.

Sebagai wanita yang hidup di jaman globalisasi ini, Penulis mengajak kepada semua wanita mari kita bersama-sama melanjutkan perjuangan Kartini dengan selalu melakukan hal yang bermanfaat baik untuk diri sendiri maupun orang lain.

Banyak sekali potensi wanita yang tidak dimiliki oleh pria. Bahkan pria tanpa wanita seperti masakan tanpa garam. Ya, Pria pasti membutuhkan wanita, untuk melahirkan anaknya, mendidik anak-anaknya dan sebagai tiang keluarganya.

Patut diapresiasi bagi para wanita saat ini sudah sangat maju, tidak hanya sebagai ibu rumah tangga, namun banyak berkiprah di organisasi maupun di ranah politik. Tidak sedikit pula  wanita saat ini sudah banyak yang menjadi pucuk-pucuk pimpinan di perusahaan. Wanita seperti itu tidak perlu banyak bicara namun kita sudah bisa merasakan semangatnya. Yaitu semangat wanita yang ingin maju dan melakukan perubahan.

Makna hari kartini bukan hanya sekedar sebuah peringatan  namun dapat mengambil pelajaran dan merefleksi akan hakekat dari perjuangan seorang bernama Kartini. Seperti sebuah kalimat yang berbunyi “negara yang besar tidak akan pernah melupakan sejarah”. Dan sejarah besar tentang perjuangan seorang wanita bernama Kartini yang memperjuangkan harkat dan martabat wanita patut kita apresiasi dengan tindakan nyata. Apalagi di jaman globalisasi ini, peran wanita sangatlah penting dalam pembentukan karakter keluarga bahkan bangsa ini.

Bercermin dalam kisah sejarah muslimah di zaman Nabi yang begitu semangat dan percaya diri. Kisah-kisah mereka terukir dalam sejarah diawal perkembangan Islam. Ketika Khansa mempersembahkan semua putranya sebagai syuhada di jalan Allah dan bersedih karena tak memiliki lagi putra yang akan dipersembahkannya di jalan Allah.

Ada juga kisah Ummu Sulaim dan abu Thalhaa, agar suaminya tak gundah dan menunda keberangkatannya untuk jihad di jalan Allah, Ummu Sulaim yang hamil tua pun ikut ke medan jihad. Lain lagi kisah dari Asma binti Abu Bakar yang sedang mengandung Abdullah bin Zubeir. Di saat hamil tua itu ia berjihad membantu proses hijrah yang sangat luar biasa beratnya.

Subhanallah, kisah-kisah Kartini (perjuangan wanita) di atas telah membuka pikiran kita, bahwa peran wanita telah melengkapi perjuangan kaum laki-laki untuk kemaslahatan umat. Lalu, patutlah jiwa perjuangan Kartini kita contoh dan kita teladani.

Di zaman globalisasi ini, di mana dunia informasi terbuka lebar, baik dari facebook, blog, twitter, dan lainnya, telah menjadi jalan agar peran wanita semakin luas. Apalagi, sebagai seorang muslimah, peran ini harus disambut dengan gembira sebagai ladang amal.

Menjadi Kartini di era globalisasi hendaknya meneladani kisah-kisah sejarah muslimah di jaman Nabi maupun meniru sosok Kartini itu sendiri. Mengapa? Kartini maupun para wanita muslimah di jaman Nabi itu tetap menjunjung tinggi moral berdasarkan nilai –nilai agama. Tetap menjaga jati diri wanita yaitu, kemuliaan wanita berpegang teguh kepada nilai agama.

Fitrah wanita dari sejak dulu sampai sekarang adalah sama. Fitrahnya adalah istri bagi suaminya, ibu bagi anak-anaknya dan pengatur rumah yang bertugas menciptakan keharmonisan di dalam rumah tangga.

Dan yang paling penting adalah baik jaman dulu, sekarang dan akan datang, pertanggungjawaban wanita yang juga manusia sama  adalah hamba Allah yang harus mempertanggungjawabkan kiprahnya kelak di Akhirat!

Oleh: Srie Wulandari ~ Pemred SNN

Facebook Comments